Cinta
dan persahabatan itu realita. Ada duka ada tawa. Cinta itu gila, kadang
mengoyak dada dan tinggalkan nestapa dihati setiap pencinta. Persahabatan itu
pertemanan yang kadang tersamar dalam cinta. Persahabatan itu tercipta dalam
harmonisasi hidup dan jiwa.
Aku
tak pernah mengerti apa sebernarnya cinta dan apa sebenarnya persahabatan.
Sebatas yang aku tahu cinta itu sebuah perasaan kasih, sayang, kesetiaan,
ketulusan, benci, duka, ingin selalu bersama, ingin memiliki, ingin dimengerti,
saling membutuhkan, seia-sekata dan tak terpisahkan meski ruang dan waktu yang
memisahkan.
Persahabatan
itu kekraban, kedekatan emosional, visi, misi, pemikiran, berbagi, toleransi,
kebersamaan, kekeluargaan, dan kesetiakawanan.
Embun
gadis manis berkulit langsat, bermata coklat pekat, rambutnya ikal ke merahan
sedang asik termenung dibawah jendela besar dikamarnya. Titik-titik hujan luruh
dibalik jendela kamarnya, seakan langit dan bumi mampu membaca isi hatinya.
Perasaan apakah itu, entahlah. Embun si gadis penyendiri yang tak pernah
terbuka terhadap siapapun, termasuk kedua orang tuanya. Padahal bila dilihat
kedua orang tuanya tergolong cakap dilingkungannya. Ayahnya seorang pegawai
pemerintahan sekaligus petani didesanya. Namun semua itu tak menjadikan ayahnya
tamak dan sombong. Bahkan ayahnya sendiri merawat sawah, ladang, binatang
ternak dari memandikannya sampai menccari rumput untuk pakannya. Ibu Embun hanya
perempuan desa biasa yang bekerja sebagai tenaga pengajar di kampung sebelah,
meneruskan perjuangan kakeknya yang telah wafat.
Embun
yang penyendiri tak mewarisi sifat kedua orang tuanya, tetapi embun mewarisi
sifat sang kakek yang pendiam dan tak banyak bicara. Embunpun mewarisi sifat
yang tak dimiliki ibunya yang jelas-jelas anak sang kakek. Pendiam, tak banyak
bicara, suka bekerja dan pandai menyembunyikan penderitaannya sendiri. Saking
pandainya orang tuanya tak pernah tahu apa yang sedang dirasakannya saat ini.
Hampir
empat tahun Embun terjerat duka dan lara yang tak berkesudahan, hingga ia tak
mampu lagi bertahan dan memutuskan untuk mengakhiri semua itu di akhir desember
tahun lalu. Embun tahu apa yang dia lakukan, meskipun semua itu tak pernah
berakhir bahagia untuk kehidupannya.
Gunturlah
yang hampir empat tahun ini mengisi relung hatinya. Sejak lama Guntur telah
mengetahui isi hati Embun yang tak pernah berubah meski Guntur tak pernah
membalas apa yang telah diberikan Embun. Meskipun tahu apa yang Embun rasakan
padanya, Guntur tetap berpura-pura baik dan hanya menganggap Embun seperti sahabat
& adiknya.
“Embun…..”
“Embun maafkan aku sebelumnya. Aku
tersanjung dengan apa yang telah kau lakukan dan berikan padaku. Tapi harus aku
akui, aku memang bersalah tidak berusaha lebih keras untuk menerimamu
dikehidupanku. Jujur aku merasa bersalah terhadapmu. Tapi inilah kenyataan yang
harus kau ketahui tentang perasaanku terhadapmu”.
Balas Guntur dalam SMS nya.
Hening….tak
ada jawaban, mukanya memucat dan pipinya telah basah.
“Embun. Maafkan aku. Aku hanya bisa menganggapmu
sahabat dan seperti adik bagiku. Sekali lagi maafkan aku”. Itulah sms
terakhir yang dikirim oleh Guntur.
Embun
sudah menduga-duga sejak lama, bahwa kejadian ini pasti akan datang juga dengan
sendirinya. Keegoisanlah yang membuatnya lupa, kalau cinta itu tidak dapat
dipaksakan. Bukan hanya itu saja, ada perbedaan jarak dan waktu yang memisahkan
mereka. Sehinga selama empat tahun itu Guntur tak pernah bisa menerimanya.
Karena menurutnya berhubungan jarak jauh atau LDR (Long Distance Relationship)
itu sesuatu yang sangat mustahil dilakukan, terutama dijaman sekarang ini yang
berlandas pada saling percaya dan saling pengertian. Karena dalam suatu
hubungan perlu adanya kebersamaan apakah saling bertemu, jalan-jalan, makan
malam bersama ataukah sekedar nonton dibioskop seperti orang lain pada umumnya.
Dan itu tidak bisa mereka lakukan selama
ini.
Kejadian
itu telah membangunkan ia dari mimpi-mimpi yang telah ia pertahankan selama ini.
Yaitu sebuah pengakuan bahwa ia itu diinginkan, dinantikan dan dikasihi oleh
seseorang yang juga ia kasihi sepenuh hati. Semuanya telah terlambat, tak
mungkin waktu diputar kembali. Hidupnya harus terus berlanjut, masih banyak
mimpi yang belum ia capai. Ia berjanji tak ingin mengulangi kesalahannya lagi
dan kembali terjerat dalam cinta yang semu. Masalalu adalah kenangan. Kenangan adalah
ingatan atau memori atau suatu kejadian atau peristiwa yang terekam diotak
kita. Apakah peristiwa buruk, menyakitkan, menyenangkan, ataupun sesuatu yang bersifat
traumatis. Semua kejadian itu akhirnya hanya akan dikenang dan jadi sebuah
cerita masa tua untuk anak cucu kelak.
Embun
tersadar bahwa sedaritadi ia terlalu hanyut dalam alunan hujan yang makin deras
dibalik jendela kamarnya. Segurat senyum tersungging dibibir manisnya. Kini ia
telah bahagia bersama seseorang yang sangat ia cintai dan mencintainya, Angin.
Seseorang yang telah menjadi suaminya dan telah memberikannya sepasang anak
kembar (Laki-laki & Perempuan) yang lucu seperti impiannya selama ini. Dan
mereka hidup bahagia di belanda hingga kakek dan nenek.
The
End
Gundah
Sebuah
cerita sebuah derita
Elegi
cinta terbingkai dihati yang mencinta
Berderu
dalam duka dan nestapa.
Bernyanyi
di bibir rindu yang menggema
Cinta
hampa bertepuk derita
Cinta
nyata berbingkai egosentris sang pujangga
Berabad
cinta tak terbuka
Tersamar
dalam sanjung dan puja-puja
Kemilau
embun dimata pagi
Tersungging
damai dikegelapan
Kencana
biru telah lama menanti
Tak
juga kembali dari keterasingan
Berpijak
dibawah lazuardi yang melaju
Tak
berarah berkalang rindu
Kata
aku, kamu di urat nadi
Tak
berarti terucap hanya sekali
Ruang
dan waktu tak menyatu
Dibibir
malam yang kian tersulam
Gelap…
Gelap
dan pekatkan fatamorgana
Samar…mengaburkan
wajah derita
Seperti
mimpi berselimut cinta
Membasuh
raga dalam khayal yang nyata.