Thursday, 25 December 2014

Senja dan Pagi











Entah apa di benak ini
Begitu menggila rasa yang tak sanggup tuk di bendung lagi
Engkau begitu menghipnotis hari-hariku
Segala kata yang kau ucap
Segala laku yang tergelak

Entah siapa dirimu? Aku tak peduli.
Entah siapa aku? Engkau tak peduli

Yang tertuang kini hanya ukiran namamu
Tak pernah ku fahami
Tak ku mengerti
Ingin Aku berlari dari mimpi nyata ini
Berlari.... dan terus berlari tanpa pedulikanmu

Itu hanya sebuah imaji yang tak kunjung berbuah pelangi
Ku sadari fatamorgana berjubah ilusi
Berdalih hanya lewat mimpi
Bukan nyata yang bisa saling bersua

Dua dunia yang berbeda namun sama
Dua jiwa yang berbeda namun rapuh
Dua mimpi yang berbeda namun jauh
Dua kata yang berbeda namun bermakna

Satu : Aku cinta
Dua : Kamu benci

Terngiang-ngiang ditelinga senja
Dan aku masih harus bersabar 
dengan seluruh cinta yang ku simpan hnaya untuk mu pagi
Pagi yang selalu menawarkan sejuta cerita
Pagi yang indah tanpa senja yang memudar
Dibalut jingganya awan yang tersulam
Menyelimuti mentari yang hendak keperaduan

Aku cinta. Tapi tak sama
Kamu benci. Dan tetap sama
Tak berubah dan tak bertuah



Rapuh






























Sekerat Senja yang memburam
Lukiskan tawamu dari balik awan
Tetes-tetes hujan hendak membasuh lara dimatamu
Tak kau ijinkan menyatu dengan tubuhmu

Senja ...
Ilusikah mimpiku!
Tuk percikan warna di hari -harimu
Mari ulurkan lembara-lembaran kelabu
Menjadi putih seersih mimpi yang hendak dirajut

Wajah tak berona 
Mata sendu sejuta rindu 
Hitam legam segurat alis di wajah pilu

Wahai engkau Pujangga pilihanku

Bukan aku
Bukan aku yang tergambar di mata itu

Sebatang pohon rapuh terkoyak angin yang membabi-buta
Kering kerontang kesepian di ujung senja
Tak bergeming tak bertuan
Sendirian tanpa kawan
Hanya desiran angin yang membunuhnya secara perlahan.




Cahaya



Titik cahaya bertabur di sukma 
Ilusikan senja dibalik derita
Senyum pilu diwajah rindu
Terpatri erat dibalik batu

Padamkan senja di ufuk barat
Ilustrasikan di wajah pelangi
Hanya semburat hitam dan putih yang tersirat
Di gelombang kehidupan yang dititi

Wahai pujangga kirimn Tuhan....
Mencinta senja tak pecahkan karang di dermaga
Terbanglah....
Terbanglah....
Bergabung bersama pagi yang tawarkan beribu cerita
Dengan jutaan tawa yang tertawan 
Bebaskan dari keterasingan





Wednesday, 26 November 2014

Shepia




Dibalik awan yang memburam
Menggeliat langkah kecilmu malu-malu
 Tertebak angin bersenandung
Siapakah wajah sendu itu!


Dirimu yang berjubah jirah laksana panglima perang
Tak berkutik ketika alam menguliti kepedihanmu
Hingga kapan engkaukan berdalih
Berhenti tuk mencari jejak yang terperih


Sekilas lara tertusuk belati pada sukma yang menghilang
Di balik pelataran bumi yang merindang
Ilusi tak berperikemanusiaan 
Sengaja mengoyak kegelisahan


Dimana aku bertajuk
Mendendang mimpi yang merajuk
Diambang pintu sang pemabuk
Terlena kata-kata yang terkutuk


Engkaukah pilihan sang kesuma???
Kapan kita hendak bersua???
Apakah di alam lain yang berirama
Dan merajut janji hingga akhir masa.





Pantonim





Sekerat Senja yang memburam
Lukiskan tawamu dari balik awan
Tetes-tetes hujan 
hendak membasuh lara dimatamu
Tak kau ijinkan menyatu
dengan tubuhmu

Senja 
Ilusikah mimpiku!
Tuk percikan warna di hari-harimu
Mari ulurkan lembaran-lembaran kelabu
Menjadi putih sebersih mimpi 
yang hendak dirajut


Wajah berrona
Mata sendu sejuta rindu
Hitam legam segurat alis di wajah pilu
Wahai engkau pujangga pilihanku


Bukan aku
Bukan aku
Bukan aku yang tergambar dimata itu


Sebatang pohon rapuh 
terkoyak angin yang membabi buta
Kering kerontangkesepian diujung senja
Tak bergeming tak bertuan
Sendiri tanpa kawan
Hanya desiran angin 
yang membunuhnya secara perlahan




Tuesday, 18 November 2014

Your Post

La vie ce n'est pas que les orages passent, c'est d'apprendre à danser sous la pluie.
Hidup ini bukan sebagai badai berlalu, ini tentang belajar menari dalam hujan.


C'est la vie, mon amour.
Itulah hidup, cinta saya.

Friday, 14 November 2014

Cita-cita Dan Idola

Aaaaaaa............lagi ada insfirasi nulis lagi nih.
Kali ini aku ingin bercerita tentang cita-cita. Setiap manusia pasti punya cita-cita dan keinginan yang ingin di capai dan diwujudkan menjadi kenyataan. Dulu kalau aku ditanya aku ingin menjadi apa, aku merasa tidak tahu apa ya cita-cita itu dan harus bagaimana cara mewujudkannya. Sampai sekarangpun sebenarnya aku tidak tahu apa sebenarnya itu cita-cita, karena aku selalu salah mengartikan antara cita-cita dengan apa yang aku inginkan.  Akan tetapi aku akan terus berusaha mencari dan menjadikan keinginan itu menjadi kenyataan. Seperti kata pepatah "Kejarlah Cita-citamu hingga ke negeri Cina", "Tuntutlah ilmu hingga keliang lahat", "Ibadah tanpa ilmu itu seperti sayur tanpa garam dan sebaliknya ilmu tanpa ibadah itu kurang lengkap". Ungkapan-ungkapan itulah yang selalu menyemangatiku apabila kebosanan menyergap untuk berhenti dan lari dari semua angan dan cita-citaku.

Aku tak pernah berfikir akan hidup dan bekerja sampai sejauh ini, akan tetapi aku selalu yakin dn percaya bahwa Tuhan selalu membimbingku dalam setiap usaha dan do'a yang selalu ku panjatkan pada-Nya. Aku yakin juga pada salah satu surat dalam Al Qur'an yang mengatakan, "Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, apabila kaum itu ingin merubahnya sendiri",  "Di setiap kesuliatan pasti datang kemudahan",  "Apabila Allah berkehendak "Kun/Jadi" maka jadilah". 

Saat ini aku telah memutuskan suatu keputusan yang mungkin kebanyakan orang akan menganggap aku bodoh dan gila. Akan tetapi aku sudah memikirkannya matang-matang dan orang tua merestuinya. Ya... aku ingin keluar dari perusahaan yang hampir tiga tahun ini menafkahiku dan memberi banyak ilmu maupun pelajaran berharga bagi kehidupanku, baik dari segi mental maupun tentang dunia perusahaan. Meskipun aku sering melakukan kesalahan maupun menghadapai berbagai macam kendala selama bekerja disana. Aku merasa sangat bahagia dan beruntung bisa bergabung di perusahaan yang telah berjasa pada banyak perubahan dalam hidupku. Lumayanlah jadi punya tabungan juga buat bisnis yang ingin aku rintis kalau aku jadi mengajar kelak.

Keinginanku saat ini adalah bisa merasakan mengajar dan berbisnis. Aku yakin kalau niat baik itu akan selalu dimudahkan oleh Tuhan. Sungguh-sungguh dan tak mudah menyerah itu kunci dari sebuah keberhasilan yang akan dicita-citakan.

Awalnya aku tak ingin menjadi seorang guru atau apapun yang berhubungan dengan dunia pendidikan dan anak-anak. Akan tetapi aku sadar aku adalah cucu sekaligus anak dari seorang guru yang hidup dari hasil jadi seorang guru. Cuma Ibu yang menjadi guru di keluarga kakek dari empat bersaudara. Sisanya tante dan paman tak ada yang berniat menjadi guru, karena dulu penghasilan menjadi guru sangat kecil dan hanya pas-pasan. Namun aku tak melihat itu dari kakek dan orang tuaku. Aku sangat kagum pada kakek dan ibu yang bisa bertahan di balik keterbatasan finansial mereka. Padahal usaha dan pengorbanan mereka tak sebanding dengan apa yang telah mereka lakukan untuk menjadi seorang guru. Aku sangat-sangat bangga bisa menjadi cucu dari seorang guru sekaligus kepala sekolah yang tak pernah mengeluh dengan semua hambatan dan rintangan yang dilalui selama menjadi seorang guru.

Sehari-harinya Almarhum kakek berangkat menuju sekolah tempatnya mengajar ditempuh dengan berjalan kaki hingga berkoli-kilo dan harus melintasi beberapa perkampungan, sawah, hutan, lembah hingga menyebrangi sungai besar menuju ke tempatnya mengabdi dan mengajar. Tanpa lelah dan mengeluh sedikitpun. Kalau hal itu kita yang mengalaminya, mungkin kita tak bisa membayangnya dan mau menjalaninya seperti almarhum kakek. Maka ketika aku menyetujui masuk ke fakultas keguruan di salah satu universitas swasta di Bandung, almarhum kakek sangat gembira dan mendukung. Ketika itu kakek sudah mulai sakit-sakitan karena faktor usia dan memang telah pensiun dari pekerjaannya sebagai guru dan kepala sekolah.

Aku bersyukur pernah merasakan kasih sayang kakek, perhatiannya, bimbingannya, dan nasihatnya yang higga detik ini selalu ku ingat. Terlebih sewaktu aku masih kanak-kanak kakek tak oernah absen mengajakku kepasar di awal bulan untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga bersama nenek selama 1 bulan. Aku akan menangis kencang sambil guling-guling kalau tahu kakek tak mengajakku bersamanya. Kalau diingat-ingat aku memang manja dan sekali pada semua orang di keluargaku. Mungkin efek dari kasih sayang yang berlebih dari mereka dan cucuk pertama dari keluarga ayah maupun ibu. Jadi apabila keinginanku tak terpenuhi senjata andalaku hanya merengek dan menangis tanpa henti hingga terpenuhi keinginanku itu. Kadang aku tertawa sendiri melihat kenakalanku pada mereka, terlebih pada kakek dan kedua orang tuaku.

Makanan dan minuman yang wajib aku beli ketika ikut dengan kakek ke pasar adalah kue kering kuping gajah atau kacang sukro kiloan dan minuman limun atau sirup dalam kemasan botol berbentuk binatang seperti gajah, kucing, manusia koboi, dan lain-lain yang berbentuk unik dan populer kala itu di pasaran. Entah rasanya itu strowberry, jeruk ataukah melon. Aku tak perduli yang penting bentuk kemasannya unik dan aku suka. Ya... atau kadang kakek memelikanku yakult. Minuman itu masih bertahan dan dijual dipasaran. Hingga sekarangpun aku sangat suka dengan yakult. "Saya minum 2" itu selogan yang hingga kini masih dipertahankan oleh perusahaan yang memproduksinya. Kadang juga aku hanya dibelikan kuping gajah atau kacang sukro sekantong pelastik penuh. Aku sangat gembira dan menunjukkannya pada semua anggota keluargaku termasuk bobi dan pamanku yang jahil. Karena aku tak pernah mau berbagi dengan mereka meski aku di belikan banyak kuping gajah atau kacang sukro dan yakult. Ini milikku dan hanya aku yang boleh memakannya, pemikiran anak kecil polos yang bangga dengan pemberian kakek yang tak diberikannya pada paman dan bibi anaknya sendiri.
Kadang mereka iri dengan kasih sayang kakek yang berlebihan padaku. Tapi mereka mengerti karena aku masih kecil sekitar 4 tahun kala itu dan mereka sekitar 15 dan 18 tahun. Pernah suatu ketika saking jahilnya dan gemas padaku yang waktu itu baru ada aku sebagai cucu pertama di keluarga ayah maupun ibu. Aku dikerjain habis-habisan oleh paman dan kedua bibiku dari ibu. Aku didandani alias di "Curang coreng" mukanya menggunakan lipstik bekas bibi adik pertama ibu yang sudah lebih dewasa sekitar 20 tahunan. Awalnya aku mau-mau saja di dandani karena aku di iming-imingi hadiah dan makanan kalau mau didandani. Mereka mendandaniku sambil tertawa-tawa, karena berhasil membuat muka keponakannya yang poloh dan cubby itu menjadi seperti badut ancol yang sangat lucu. Tapi tidak bagiku kala itu yang mengira hasilnya akan cantik seperti boneka atau tokoh putri di film kartun hitam putih yang tak berwarna. Mereka semakin asyik menertawakan kepolosan mukaku yang berhasil mereka permainkan dengan sebatang lipstik bekas sebagai tontonan yang mengasyikan. Sangat-sangat mengasyikan mungkin, seperti menonton film spongebob dijaman sekarang mah.

Setelah mereka puas menertawakanku, aku penasaran ingin melihat bagaimana hasil karya paman dan bibiku yang berhasil menghipnotis mereka seperti orang gila dan puas menertawakan kejahilan mereka. Saat cermin dihadapkan diwajahku, sontak aku menjerit kaget karena melihat wajah kecilku mengerikan seperti monster dan orang gila dengan rambut yang dikuncir banyak. Aku menangis sejadi-jadinya karena kaget melihat wajah mengerikanku. Kala itu nenek memarahi paman dan bibik yang tak berhenti dan malah menjadi menertawakaku. Aku langsung dibawa nenek ke kamarmandi, di bawah pancuran bak mukaku dibersihkan menggunakan kain dan sabun mandi. Aku masih menangis dan kedinginan. Aku tak mengira paman dan bibi akan sejahil itu padaku. Tetapi aku tahu itu hanya lelucon yang mereka perbuat padaku karena kasih sayang mereka.

Jika mengingat kejadia itu kadang aku berfikir kenapa aku begitu polos mau di jahili oleh mereka dengan iming-iming makanan dan hadiah. Hahahahahahahahaha.....
Padahal setelahnya aku tak mau berhenti menangis, meski sudah hilang semua noda diwajahku. dan aku ingat setelah itu aku diajak ibu kerumah sepupunya untuk menghadiri acara tetangganya. Aku sempat tertidur di rumah sepupu ibu yang biasa di panggil "Uwa mimi". Kemudian bangun tidur aku malah difoto di atas tempat tidur dikamar Uwa mimi sambil cemberut. Fotonya masih ada hingga sekarang dan Bukti kejahilan paman dan bibi-bibiku itu masih tersisa disudut mata kananku kalau tidak salah.
Dibawah inilah fotoku itu :











*************************************<@>****************************************



Kakek hanya bertahan hingga aku kuliah semester 1, tepatnya ketika UTS/Ujian tengah semester pertamaku sebagai mahasiswa. Di hari terakhir ujianku aku dikabari bahwa kakek telah tiada. Aku syok dan lemas mendengarnya, seketika itu juga aku kabur dari ujian dan pulang ke kampung halaman, berharap masih bisa melihat kakek untuk yang terakhir kalinya. Dan aku salah, setiba aku di kampung aku tak mendapati tubuh ringkih kakek yang terakhir kali aku lihat sebelum ke bandung masih berbaring lemah di tempat tidur dengan selang oksigen yang setia menemaninya. Aku tak tega dan tak berani lagi menangis didepan kakek, meski dulu aku cucu yang paling cengeng di antara semua cucu-cucunya. Aku ingin bersikap tegar dihadapan kakek, kalau aku sudah dewasa dan bukan cucu kecilnya yang cengeng dan merengek minta dibelikan minuman kemasan unik seperti dulu. Aku Bersyukur meski aku tak bisa melihat wajahnya untuk yang terakhir kali, aku masih bisa melihatnya tersenyum dan berkata "Do'akeun abahnya sing enggal damang, jeung ujian pit sing lancar, sing sukses". Itu kata-kata kakek terakhir kakek sambil terbata-bata yang aku dengar sebelum beliau berpulang. Kakek........Aku berjanji akan meneruskan perjuanganmua dan ibu menjadi seorang anak,cucu, ibu, dan guru yang baik dan penyabar sepertimu. Aku bangga padamu,,,,aku sayang sekali padamu, Engkau kakek yang paling aku banggakan. semoga Allah memberimu tempat yang layak disisi-Nya, dan ilmu yang telah engkau dermakan kepada semua murid-murid, anak-anak dan cucumu menjadi ilmu yang bermanfaat dan memberimu safaat di akhirat kelak. Amiiin ya rabbal alamin.

Kakek adalah idola pertama yang aku kagumi, sebelum artis-artis atau tokoh kartun yang banyak orang-oarang kagumi dan puja-puja di jaman sekarang ini. Kakek adalah kakek, teman, dan guru pertama yang mengajarkanku untuk mencintai buku dan ilmu. Dibalik sikapnya yang pendiam, tegas, hobi nonton berita, olah raga tinju dan sejarah. Kadang sampai tertidur atau "Nundutan" di depan Tv. Aku suka meminta kakek untuk pindah kekamar, tetapi kakek tidak mau pindah dan kembali nonton dan kembali tidur lagi. Kami sering berebut nonton Tv dan tempat duduk kala itu. Aku paling takut kalau kakek marah dibandingkan ayah atau ibu yang marah kalau aku nakal dan kambuh sifat ngeselinnya.

Masa kecilku banyak dihabiskan bermain dan belajar di rumah kakek dari ibu, karena kesibukan kedua orang tuaku yang bekerja. Makanya aku lebih dekat dan nurut ke kakek dan nenek ketimbang pada kedua orang tuaku.
Kakek...Nenek...kalian semua keluargaku, aku sayang pada kalian. Meski aku tipikel orang yang tak mudah mengekspresikan kasih sayangku.  Terima kasih untuk semuanya.

Ich liebe dich meine Familie :) :* :')










Monday, 10 November 2014

Saja

Cinta....
Engkaulah cinta tak bertuah
Terpanggang di semak tandus yang digembala

Cinta...
Engkaulah cinta di belenggunya sukma
Terpatri di tembok penjara sang permaisuri

 Cinta....
Engkaulah cinta tak bermimpi
Terpikat hati di balik ilusi

Cinta...
Engkaulah cinta yang tak abadi
Terbuang aku dari air yang menggenang hati

Cinta...
Engkau pujangga lama tak bernama
Terpikat aku dengan pesona yang menggoda

Cinta....
Engkaukah pangeran cinta
Tak bisa aku berpaling barang sekejap saja.

Cinta....
Cinta....
Cinta....
Dalam mimpi yang penuh dengan tanya!!!


Sunday, 26 October 2014

Salah

Kenyataan itu memang benar-benar pahit... sangat-sangat pahit. Tak semanis roman picisan. Kini tak ada lagi yang harus aku pertahankan semuanya. Semuanya sudah berakhir ketika aku memulainya. aku telah merusak semuanya. Merusak hidupku sendiri dengan selalu memikirkannya. memikirkan orang yang tak pantas aku fikirkan. Sama seperti kamu yang kini kembali dari sosok yang baru. Aku.... Aku tak tahu apa yang Tuhan rencanakan. Aku hanya tak ingin terlihat rapuh dan lusuh dihadapannya. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa dan mampu berdiri tanpa cinta  makhluk-Nya. Karena hanya cinta-Nya yg tersisa. Tak seorangpun, tak ada.
Tuhan memang paling tahu mana yang terbaik untukku. Dengan tak pernah mempertemukan kami didunia nyata itulah jalan yang terbaik untukku dan kedepannya.
Sungguh menyakitkan harus berpura-pura tegar di depan semua orang dan seolah-olah aku baik-baik saja. Sakit banget liat orang yang pernah dicintai bersama orang yang dicintainya. Tapi itulah kenyataan karena hidup itu memang begitu.
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa....... mengapa aku sangat menyedihkan.
Aku b***h bisa mencintai orang-orang tak pernah mencntaiku setulus yang aku beri. Aku tahu aku salah karena sudah berharap pada yang salah. Aku salah.....aku tak pernah menghargai hidupku sendiri. Aku salah. ******************************************************* :,(

Jingga

Kau....
Sebutir ragu yang pautkan kembali rasa pahit yg telah kuregup.
Kau....
Mimpi lama yang mampu kembangkan balon udara di pipi pagi
Kau....
ilusi yang nyata di pelupuk mata
Kau,,,
Nyanyian surga yang tak sanggup ku singgahi
Kau....
Entah cinta itu atau apa,,,aku tak mengerti


Kau.....
Bukan orang akan membuatku bahagia
Kau...
Bukan malaikat itu
Kau...
Bukan bagian yang pas untuk rusukku


Aku...
Hanya aku yang tahu siapa aku
Aku...
Bukan siapa-siapa yang diinginkan ataupun diharapkan.
Aku....
Hanya aku yang tahu siapa aku
Aku...
Hanya seorang pecundang yang mampunya bersembunyi
Aku....
Tak tahu cara bahagiakan diriku.
Aku....
Sungguh mengerikan.
Tak berhati, dan tak berperasaan.
Aku......
Aku....
Aku,,,,,
Tak berarti.

Thursday, 11 September 2014

Just

Senja...
Jingga...
Ku titipkan cinta diwarnanya jingga.
Berurai peluh yang membasuh dahaga.
Tak terbendung pilu dalam rindu yang mendera.
Kiranya kata mampu isyaratkan pertanda.
Sejuta kata kan ku rangkai dengan seksama.

Mengertikah engkau membacanya wahai permata ???!!
Aku tunggu engkau dibalik jendela tua.
Buku, Sastra dan sunyi senyapkan suasana.
Itu yang kau suka ... Akupun suka.
Tak perduli kata mereka.
Di museum tua ku bertandang.
Memainkan peran bak pelawak di jalanan.

Ironi hari yang tak jua bersaksi.
Saksikan mimpi yang perlahan memudar mengitari.
Wahai engkau mentari.


This is for you, if you understand with a soul. someday I hope you know and understand. I'm sorry for all. I'm very like you because Allah.



Soul

Dunia semu.
Dunia bayang tanpa batas imaji membingkai.
Dunia maya.
Dunia tanpa tawa yang berirama,
beriringan disetiap langkah kaki.
Dunia bayangan.
Dunia tanpa raga yang satukan semesta dari harapan.

Gemercik itu bangunkan dari sekilas bayang yang menggantung mimpi.
Bunyikan, getarkan, pecahkan setiap irisan langkah yang menjuntai.

Tak kiranya hanya senyum pilu tergores dipipi pagi.
Berdalih bersambutan dengan tengah hari.
Tergolek lemah tertancapi duri.
Mengerang dikeramaian mimpi.
Berurai darah dinaluri.
Ilusi itu semakin menjadi
dan segera, secepatnya harus diakhiri.
Namun terlanjur terpatri.


Aku hanya manusia ilusi. Tak sanggup tunjukan wajah yang suci. Aku hanya manusia yang tak berarti. Bagimu yang berbaju jirah di padang bunga mewangi. Persembahan ini tak sebanding dengan pesona yang membabi buta telah lumpuhkan seluruh sendi-sendi. Tak akan mengerti arti ini bila tak kau selami sedari tadi. Hanya sunyi yang sanggup pertontonkan kebodohan naluri. This is just a feel. Not you feel. And i know you don't make me happy with a feeling. This my my feeling, not you feeling.


Monday, 25 August 2014

Shaddow

Keterlaluan memang. Aku membuatnya penasaran dan kesal. Tak ada maksud apapun dr semua tulisa-tulisan yang aku kirim padanya. Hanyalah ungkapan kata yang begitu saja keluar dari mulut ini. Aku mengerti, dan aku tak akan lagi mencari tahu semua tentangnya. Perkataannya terhadapku tak akan membuat aku sakit hati. Karena hatinya justru yang paling tersakiti. Maafkan aku yang hanya bisa bersembunyi dibalik bayanganmu. 
Ini yang aku kirim padanya di tanggal 22 Agustus 2014 pukul 07:055

Mentari
Cahayamu terangi semesta
Sinarmu hangatkan bekunya dunia
Caramu ramu segala
Tak ayal jauh dari logika

Mentari
Termasyhur di seluruh negeri
Memainkan peran yang penuh teka dan teki
Ilusimu membakar seluruh kecemasan di naluri
Hingga lenyap 
Dan tinggalkan abu yang tak berarti

Mentari 
Kilauan cahayamu butakan para penyanyjung mimpi
Tak seorangpun mampu tuk pandangi
Mimpi-mimpi maupun simponi
Tak ayal waktu yang terhentak ditepi ilusi
Hanya iringi sinarmu
Hendak menjauh kembali



Kesadaran dan penyesalan itu selalu datang terakhir dan terlambat. Aku tak pernah menyesal telah mengirimkan kata-kata tak berarti ini. Ini hanyalah sebuah tulisan, aku fikir ini tidak terlalu perlu dipermasalahkan. Disukai atau tidak hanya ini yang bisa aku lakukan untuk memberikannya semangat. 

Tanggal 25 Agustus, pukul 08:59

Tanda tak bertuan
Berbingkai imaji membenam di kegelapan
Lengkungan itu tak bisa berpaling dari pandangan
Meski sekilas, namun berikan kekuatan

Tak bisa berujar, berlari berkejaran
Yang terpatri hanya ilusi dibayangan

Cukup waktu yang ulangi segala
Hanya jingga....
Ilustrasi warna penuh makna


Kata-kata balasan darinya menyadarkan aku bahwa aku bersalah mengganggunya. Aku pastikan tak akan muncul lagi darinya. Meski suatu saat nanti waktu pertemukan kami. Aku akan menghindar darinya yang tak inginkan kehadiranku. Memang aku hanya bayangan. Bayangan yang mampunya hembuskan kepedihan dihati siapapun yang aku temui. Aku memang tak berarti. Tetapi aku hanya ingin menjadi manusia yang berguna untuk orang lain. Cara ini mungkin salah. Aku memang salah. Aku selalu serba salah. Sampai suatu saat akan ada yang menghargai ketakberartian hidupku ini. Ini janjiku.

Tuesday, 19 August 2014

Elegi

Ketika kau hendak bertanya padaku, "Siapa dirimu?". Aku hanya ingin kau tahu sedikit tentangku. Karena aku tak ingin peristiwa lama kembali terulang padamu. Aku hanya bisa menjawabnya :
Angin...
Angin yang mampunya hembuskan di bayangan.
Sekilas bermakna, tersirat di jingga.
Jiwa. 

Tak ada yang aku inginkan darimu. Tak ada yang aku harapkan darimu. yang aku mau hanya kau tahu betapa engkau begitu berharga dimataku. Kau mungkin tak akan pernah tahu. Karena aku tak ingin kau tahu. Tak ingin aku mengulang kesalahan yang kuperbuat lagi di masa lalu padanya. Pada Dia yang tak pernah melihatku. Dia yang hanya anggap kehadiranku angin yang mampu sejukkan sesaat dan menghilang seketika badai porak-porandakan segala angan yang ku bangun susah payah. Maafkan aku. Aku pengecut membiarkanmu tak mengetahuinya. Hanya bait-bait puisi yang mampu aku persembahkan untukmu yang ku kagumi. Ini untuk mu.

Jingga....
Siluet merona di padang fana
Mengambang membingkai ilustrasi penuh tawa

Jingga....
Lukiskan serpihan warna berirama
Merebak bersama alam yang bergema

Jingga....
Tak sembarang sajikan ronanya pada setiap kesempatan
Tak tentu waktu
Tak tentu hari
Kadang tak ada sama sekali
Seperti ilusi

Entah kapan engkau akan mengetahuinya. Bahwa itu aku yang diam-diam mengagumimu. Aku berdosa dan tak ingin semakin berdosa karena aku menyia-nyiakan waktu lagi hanya untuk menyanyjungmu. Hanya Tuhan yang tahu apa isi hatiku, kamu dan dia.







Thursday, 31 July 2014

Apa arti "Aku" dalam hidup.

             Sepertinya sudah lama sekali aku tak membuat catatan. Kali ini aku ingin membahas mengenai apa arti "Aku" di hidupmu. Sebelum kita mulai menelaah satu persatu, saya ingin bertanya pada kalian beberapa pertanyaan yang mungkin sempat muncul dikepala kalian. Dan semua pertanyaan itu tak pernah terjawab dengan jelas, tetapi hanya mengalir saja dan tak ada ujung pangkalnya.
             Pertanyaan pertama, apakah kalian pernah bertanya pada diri kalian kalau kalian itu siapa?. Kedua, Kalian itu hidup untuk apa dan apa alasan kalian untuk hidup?. Ketiga, mengapa kalian mendapat ujin, cobaan, karunia, dan bahkan cemoohan?. Keempat, kenapa Tuhan menciptakan kalian jika hanya akhirnya akan kembali pada-Nya juga?. Kelima, kenapa hanya kalian yang merasakan bahwa ketika kita tidur, ketika tak dengan orang lain merasa kalian itu sendiri dan kenapa?. Keenam, berfikir tentang kematian yang kelak akan menghampiri, kemudian kalian tak bisa lagi melihat dunia, perkembangannya bahkan bersama orang yang kalian kasihi?. Mungkin sudah cukup dulu pertanyaan-pertanyan dari saya. Sekarang saya kembalikan pada kalian, apakah kalianpun pernah memiliki pertanyaan yang sama dengan saya???.
            Sepertinya akan sangat lama apabila saya harus menunggu jawaban dari kalian terlebih dahulu. Maka dari itu saya akan menjawab semampu saya pertanyaan-pertanyaan tadi. 
       Pertama, Apakah kalian pernah bertanya pada diri sendiri siapa kalian sebenarnya?. Sebenarnya pertanyaan itu pertanyaan yang tidak pernah saya temukan selama saya hidup. 


Wednesday, 30 July 2014

Hanya

Pilihan. Tak pernah ada pilihan untukku dalam beberapa tahun ini. Apa yang harus aku pilih dan lakukan itu semua mengalir saja dengan sendirinya tak pernah aku perhitungkan sama sekali. Kalau bisa memilih hidup seperti yang ditanyakan seorang teman, "hidup mana yang akan kamu pilih apabila kamu terlahir kembali. Hidup yang sekarang ataukah yang lain?". Kalau aku ditakdirkan terlahir kembali, maka aku akan memilih menjadi manusia baru yang menghadapi hidup dengan cara pandang berbeda dengan apa yang pernah aku lalui saat ini. Aku ingin kehidupanku dipenuhi dengan tawa dan keceriaan, tidak seperti sekarang penuh dengan kehampaan. Aku ingin bisa membuka mata bahwa aku tak harus setia pada sesuatu yang belum tentu akan bersamaku. Tetapi kesetiaanku itu cukup aku simpan di hati untuk seseorang yang pantas dan tepat.

Dibalik semua itu aku tak pernah menyesali hidup ini. Karena aku yakin Tuhan lebih tahu apa yang tidak aku ketahui dengan hidupku. Saat ini yang bisa aku lakukan hanya menjadi manusia yang lebih baik lagi setiap harinya. "Tuhan itu memberikan apa yang kita butuhkan dan bukan apa yang kita inginkan", hanya kata-kata itu obat mujarab kala hampa menyerangku.

Bagi sebagian orang cinta itu adalah hidup. Hidup tanpa cinta bagai hidup tanpa nyawa. Raga tanpa nyawa bagai jalan tanpa arah. Bagaimana menurut kalian???????

Aku yakin tak ada yang membaca blog saya ini. Jadi jangan harap saya bisa tahu pendapat kalian. Tak mengapa, karena blog ini hanya sebatas media saya untuk menyalurkan hobi saya menulis dan bercerita. Saya mungkin bukan penulis yang baik, jadi tak apa saya salah menulis atau tidak. Toh tidak ada yang merasa dirugikan atau diuntungkan.







Thursday, 10 July 2014

Matirasa

Entah apa yang ada difikiran ini. Entah apa yang aku rasakan saat ini. Entah apa yang ingin aku gapai, seakan aku tak memiliki lagi cita-cita. Aku seperti tak lagi mengenali diriku sendiri. Tak tau apa tujuan yang ingin dicapai dan ingin diraih. Apa ini matirasa??
Aku tak mengerti akan diriku, sehingga apa yang aku jalani seperti tidak bermakna sedikitpun. Aku sendiri selalu bertanya-tanya mengapa aku seperti ini dan mengapa aku bersikap seperti ini. Meski begitu masih ada sedikit celah yang mampu menembus dinding hatiku.
Dia...Dia yang tiba-tiba hadir dihidupku. Sebenarnya aku tak ingin terhanyut lagi dalam angan-angan yang kelak akan menghancurkan diriku sendiri. Apalah daya aku yang hanya manusia biasa, apalagi mengenai sebuah anugerah yang Allah titipkan pada relung hatiku. Meski tak menginginkannya Allah akan tetap memberikannya. Meski begitu menginginkan Allah belum tentu memberikannya. Aku memang harus terus berfikir realistis, karena kehidupan itu bukan sebuah dongeng yang semuanya pasti berujung kebahagiaan didunia. Yang terpenting saat ini aku harus fokus menggapai mimpi dan cita-citaku yang semakin tertunda karena kemalasanku akhir-akhir ini. Aku memang kalah sebelum  berperang, tetapi aku sadar aku tak bisa meraihnya dengan mudah. Tarutama akuhanya perempuan biasa yang tak punya kemampuan dan bakat lebih sesuai dengan kriterian Dia yang mungkin sangat sempurna. Aku mungkin punya cinta dan kesetiaan yang lebih besar dibandingkan perempuan-perumpuan idamannya. Hanya itu yang aku miliki dan hanya itu yang bisa aku tawarkan padanya yang belum tentu mau menerimaku dengan segala keterbatasanku. 
Alasan lain mengapa aku tidak yakin karena lagi-lagi laki-laki itu tak mengenalku dengan baik, bahkan kami tak pernah saling bertemu. Aku tak ingin lagi merasakan seperti pungguk merindukan bulan. Aku tak ingin kepahitan yang ku buat sendiri akan aku alami lagi untuk yang kedua kalinya. Maka aku putuskann untuk tak mengenalnya lebih jauh lagi dan aku lebih memilih mundur sebelum mengenalnya. Aku juga sangat berterima kasih sekali padanya, berkat Dia aku bisa melupakan kepahitan yang selama hampir 6 tahun ini aku rasakan.  Kehadiranya seperti pelita dalam kegelapan, seperti obat penawar bagi lukaku yang tak kunjung mengering. Berkat Dia juga kini aku bisa lebih menghargai waktu dan kesempatan yang aku miliki. Terima kasih aku ucapkan. Meski ucapan itu tak sebanding dengan perubahan yang Dia timbulkan padaku saat ini. Kalaulah aku punya sesuatu yang biasa aku bagi untuknya sebagai rasa terima kasihku, maka akan aku bagi dengannya. 
Dia mungkin tak akan pernah tahu aku dan tak akan pernah tahu apa yang aku rasakan dari perubahan ini. Melalui Dia Allah telah meberikan penawar dari lukaku.Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat untuknya, dan mengijinkan aku bertemu dengannya.  

Friday, 20 June 2014

Jenuh

Jenuh.... jengah. 
Setitik hilang dari pelupuk. 
Menyapu jejak yang terlanjur terbentuk.
Leburkan hitam pada sang pagi
Berserakan didipi bumi.

Ilalang hilang terhempas badai
Sejuk dipandang hilang berkabut
Indah nian sanjung perangai
Sibuk berdendang dipingggir laut.

Tak elak kaki hendak berpijak
Diujung jalan takut tersesat
Kejenuhan terus merebak
Meradang hantui seemua firasat
 
Tak terjawab ilusi mimpi
Menguning seketika nada berbunyi
Beraneka warna-warni sunyi
Biaskan gema di nyatanya hari

Beraga tak bernyawa
Berwarna tak berjiwa
Berisi kekosongan durjana
Berbingkai semu semata

Tanya.
Jengah mengada-ada
Berkasih bersedu sedan
Dibalik mimpi yang hampir padam.
Malam.

Monday, 19 May 2014

Pupus

Tidak ada yang salah dengan hati ini, dan tidak ada pula yang patut dipersalahkan.
Ketika rindu tak mampu mengerang. Hanya salju terduduk dalam kepongahan.
Keajaiban apa yang ingin ku lantunkan.
Dari setitik kegersangan yang lama hinggapi padang harapan.
Berfikir sejenak di jalan yang melintang. Ingin aku meregup manisnya janji yang kau takdirkan.
Apakah salah bila lagi-lagi aku beri halusinasi kedudukan.
Apakah aku keliru dgn kekeliruan yang kadang membuatku melayang.
Aku terjatuh berulangkali. Dan tak berkesudahan aku kembali bangkit.
Kali ini akupun sama. Terjebak lagi dikotak penuh misteri yang bernama "Cinta Semu".
Semu dari bayang nyata hadirnya. Semu dari tawa nyaring yg menahannya tuk pergi.
Semu dalam raga yang tak berwujud. Semu yang terlihat namun tak mampu ku rengkuh.
Lagi-lagi....dan lagi.... Kali ini semakin menjadi.
Semakin alam menentangnya. Semakin aku bangkit tuk mengejarnya.
Di bawah alam sadarku, aku terlalu menyanyjungnya hingga kelangit.
Tak bersisa lagi ruang kosong di palung jiwa yg terjangkit.
Semua terisi olehnya. Tak bersisa.
Ini hanya ilusi. Aku tak boleh lagi bermimpi.
Bermimpi panjang yang sesatkan imaji. Hanya mampu lambungkan hati yg terkoyak naluri.
Jadi tak usah bermimpi, dan secepatnya harus ku hapus seketika. Tak bersisa.

#janganmengulangikesalahanyangsama. #cukupdulusajadantidakuntuksaatiniatauupunnanti







Wednesday, 14 May 2014

Tetap Positif Thinking

Aku bingung. Kadang aku berfikir apa sudah seharusnya aku mundur dari pekerjaan ini. Tapi bagaimana kalau aku mundur sekarang, sedang masih banyak hal yang belum bisa aku lakukan untuk kedua orang tuaku. Disatu sisi aku ingin memulai karir sesuai dengan passion dan bidang pendidikan ku. Tapi disisi lain aku masih memiliki tanggung jawab yang besar dengan kewajibanku dan belum punya cukup tabungan untuk bekalku nanti.
 Peluang itu tidak akan datang untuk yang kedua kalinya. Kalau tidak sekarang memulainya, kapan lagi. Sedang usiaku semakin bertambah. Untuk sekarang aku memang tidak memikirkan tentang pasangan dulu, karna mau memilih pasangan bagaimana kalau tidak ada satupun yang bisa aku pilih. Maka dari itu untuk saat ini yang terpenting aku harus tegas memilih mana yang harus aku dahulukan dan mana yang tidak.

Aku fikir dengan aku ambil peluang ini, akan ada banyak peluang-peluang yang lain. Seperti aku bisa mendaftar beasiswa s2 dalam negeri yang salah satu syaratnya aku harus punya no induk pengajar. selain itu aku juga bisa mulai bisnis kecil-kecilan atau berwiraswasta sambil mengajar. Karna hal ini telah lama aku impikan. Meskipun nanti penghasilan ku tak cukup untuk membantu orang tua atau bahkan untuk aku sendiri. Tapi aku yakin selama aku mau berusaha dan bersyukur pasti allah akan memberikan kemudahan dan kelancaran pada setiap kepeutusan yang aku ambil.
Semoga kelak aku bisa menjadi manusia yang bermaanfaat untuk orang banyak dan mampu berdiri sendiri tanpa perlu menyusahkan orang lain lagi. Allahhu akbar....Semangatttt.....semangat....semangat....

Saturday, 12 April 2014

Bisu

Terhenyak mimpi di ujung jalan keterpurukan
Merapi merah muntahkan seluruh tangis dalam kelam
Gertakan alam terpaku disunyinya malam
Memberondong segala sesal yang tak berkesudahan

Ingkari mimpi yang kian detik kian menghantui
Hari-hari sunyi semakin payungi naluri
Bergetar dalam puncak ego semesta hati
Sembunyi di semak-semak keangkuhan imaji

Tiada langit yang sudi tuk sanjungi
Berbagi harap semu walau setitik api
Semakin gelapkan langkah yang berarakan
Tiada arah,,,hanya jumpai keterasingan

Disana...
Dilangit yang sama menaungi mimpi
Berapi-api dan malu-malu tuk akui
Hasrat berkecamuk di setiap pijakan yang dititi
Ingkari, jenuhkan raga yang membumbung tinggi

Keterikatan mawar dan mentari
Hinggapi ranting-ranting rapuh tak terselami
Jingganya siluet takarkan semua yang diuji
Mimpi, Imaji, Hati, Getirkan halusinasi










Thursday, 10 April 2014

Bungkam

Bercermin aku dalam gelak tawa semu
Berbingkai dinding nan kelabu
Tertinggal sendu disudut lazuardi yang membiru

Berdebu hati berucap kelu
Benderang kabur yang membalut kalbu
Terpikat mimpi dalam sembilu

Acuh tak acuhkan masa lalu
Bertabur kejora menghunus harap palsu
Akan indah pada paras yang merindu
Syahdu dalam irama pilu

Pecahan itu tercabik dan mendebu
Terhempas angin kesegaran fatamorgana
Seketika merekah dan melayu
Sendu tak bergeming dalam dekapan tawa


Mimpi nyata isyaratkan pertanda
Halusinasi cinta menari-nari dan meronta
Berkelit di ruang sunyi kian merdukan telinga

Berkecamuk naluri dalam seribu langkah
Berdalih dan ingkarkan naluri yang bersilat lidah
Berserah dikegamangan khayal penuh petuah

Tersamar mimpi dalam tabir mentari
Elokan paras menjulang nan hakiki
Gemuruh badai lukiskan halus pekerti
Diiringi nyanyin pujangga penuh misteri

Wahai.....penyanjung ilusi
Mimpikah hidup dalam bayang imajinasi
Titisan dewa-dewi bernyanyi
Utarakan nalar yang merajai

Wahai.....sang penyanjung materi
Terkaparkah engkau penuh sanjung puji
Wakili alam yang bersenandung simponi
Terbungkus sutra dipinggir pantai suci

Mimpi......
Ilusi....
Khayal....
Getarkan urat-urat nadi
Bersenandung bersama para bidadari
Tersayat-sayat sembilu yang tak terobati
Tinggalkan lusuhnya kepingan-kepingan hati
Akhir mimpi...










Tuesday, 8 April 2014

Gemericik


Cinta dan persahabatan itu realita. Ada duka ada tawa. Cinta itu gila, kadang mengoyak dada dan tinggalkan nestapa dihati setiap pencinta. Persahabatan itu pertemanan yang kadang tersamar dalam cinta. Persahabatan itu tercipta dalam harmonisasi hidup dan jiwa.
Aku tak pernah mengerti apa sebernarnya cinta dan apa sebenarnya persahabatan. Sebatas yang aku tahu cinta itu sebuah perasaan kasih, sayang, kesetiaan, ketulusan, benci, duka, ingin selalu bersama, ingin memiliki, ingin dimengerti, saling membutuhkan, seia-sekata dan tak terpisahkan meski ruang dan waktu yang memisahkan.
Persahabatan itu kekraban, kedekatan emosional, visi, misi, pemikiran, berbagi, toleransi, kebersamaan, kekeluargaan, dan kesetiakawanan.
Embun gadis manis berkulit langsat, bermata coklat pekat, rambutnya ikal ke merahan sedang asik termenung dibawah jendela besar dikamarnya. Titik-titik hujan luruh dibalik jendela kamarnya, seakan langit dan bumi mampu membaca isi hatinya. Perasaan apakah itu, entahlah. Embun si gadis penyendiri yang tak pernah terbuka terhadap siapapun, termasuk kedua orang tuanya. Padahal bila dilihat kedua orang tuanya tergolong cakap dilingkungannya. Ayahnya seorang pegawai pemerintahan sekaligus petani didesanya. Namun semua itu tak menjadikan ayahnya tamak dan sombong. Bahkan ayahnya sendiri merawat sawah, ladang, binatang ternak dari memandikannya sampai menccari rumput untuk pakannya. Ibu Embun hanya perempuan desa biasa yang bekerja sebagai tenaga pengajar di kampung sebelah, meneruskan perjuangan kakeknya yang telah wafat.
Embun yang penyendiri tak mewarisi sifat kedua orang tuanya, tetapi embun mewarisi sifat sang kakek yang pendiam dan tak banyak bicara. Embunpun mewarisi sifat yang tak dimiliki ibunya yang jelas-jelas anak sang kakek. Pendiam, tak banyak bicara, suka bekerja dan pandai menyembunyikan penderitaannya sendiri. Saking pandainya orang tuanya tak pernah tahu apa yang sedang dirasakannya saat ini.
Hampir empat tahun Embun terjerat duka dan lara yang tak berkesudahan, hingga ia tak mampu lagi bertahan dan memutuskan untuk mengakhiri semua itu di akhir desember tahun lalu. Embun tahu apa yang dia lakukan, meskipun semua itu tak pernah berakhir bahagia untuk kehidupannya.
Gunturlah yang hampir empat tahun ini mengisi relung hatinya. Sejak lama Guntur telah mengetahui isi hati Embun yang tak pernah berubah meski Guntur tak pernah membalas apa yang telah diberikan Embun. Meskipun tahu apa yang Embun rasakan padanya, Guntur tetap berpura-pura baik dan hanya menganggap Embun seperti sahabat & adiknya.
“Embun…..”
“Embun maafkan aku sebelumnya. Aku tersanjung dengan apa yang telah kau lakukan dan berikan padaku. Tapi harus aku akui, aku memang bersalah tidak berusaha lebih keras untuk menerimamu dikehidupanku. Jujur aku merasa bersalah terhadapmu. Tapi inilah kenyataan yang harus kau ketahui tentang perasaanku terhadapmu”. Balas Guntur dalam SMS nya.
Hening….tak ada jawaban, mukanya memucat dan pipinya telah basah.
Embun. Maafkan aku. Aku hanya bisa menganggapmu sahabat dan seperti adik bagiku. Sekali lagi maafkan aku”. Itulah sms terakhir yang dikirim oleh Guntur.
Embun sudah menduga-duga sejak lama, bahwa kejadian ini pasti akan datang juga dengan sendirinya. Keegoisanlah yang membuatnya lupa, kalau cinta itu tidak dapat dipaksakan. Bukan hanya itu saja, ada perbedaan jarak dan waktu yang memisahkan mereka. Sehinga selama empat tahun itu Guntur tak pernah bisa menerimanya. Karena menurutnya berhubungan jarak jauh atau LDR (Long Distance Relationship) itu sesuatu yang sangat mustahil dilakukan, terutama dijaman sekarang ini yang berlandas pada saling percaya dan saling pengertian. Karena dalam suatu hubungan perlu adanya kebersamaan apakah saling bertemu, jalan-jalan, makan malam bersama ataukah sekedar nonton dibioskop seperti orang lain pada umumnya. Dan itu tidak  bisa mereka lakukan selama ini.
Kejadian itu telah membangunkan ia dari mimpi-mimpi yang telah ia pertahankan selama ini. Yaitu sebuah pengakuan bahwa ia itu diinginkan, dinantikan dan dikasihi oleh seseorang yang juga ia kasihi sepenuh hati. Semuanya telah terlambat, tak mungkin waktu diputar kembali. Hidupnya harus terus berlanjut, masih banyak mimpi yang belum ia capai. Ia berjanji tak ingin mengulangi kesalahannya lagi dan kembali terjerat dalam cinta yang semu. Masalalu adalah kenangan. Kenangan adalah ingatan atau memori atau suatu kejadian atau peristiwa yang terekam diotak kita. Apakah peristiwa buruk, menyakitkan, menyenangkan, ataupun sesuatu yang bersifat traumatis. Semua kejadian itu akhirnya hanya akan dikenang dan jadi sebuah cerita masa tua untuk anak cucu kelak.
Embun tersadar bahwa sedaritadi ia terlalu hanyut dalam alunan hujan yang makin deras dibalik jendela kamarnya. Segurat senyum tersungging dibibir manisnya. Kini ia telah bahagia bersama seseorang yang sangat ia cintai dan mencintainya, Angin. Seseorang yang telah menjadi suaminya dan telah memberikannya sepasang anak kembar (Laki-laki & Perempuan) yang lucu seperti impiannya selama ini. Dan mereka hidup bahagia di belanda hingga kakek dan nenek.
The End

Gundah
Sebuah cerita sebuah derita
Elegi cinta terbingkai dihati yang mencinta
Berderu dalam duka dan nestapa.
Bernyanyi di bibir rindu yang menggema

Cinta hampa bertepuk derita
Cinta nyata berbingkai egosentris sang pujangga
Berabad cinta tak terbuka
Tersamar dalam sanjung dan puja-puja

Kemilau embun dimata pagi
Tersungging damai dikegelapan
Kencana biru telah lama menanti
Tak juga kembali dari keterasingan

Berpijak dibawah lazuardi yang melaju
Tak berarah berkalang rindu
Kata aku, kamu di urat nadi
Tak berarti terucap hanya sekali

Ruang dan waktu tak menyatu
Dibibir malam yang kian tersulam
Gelap…
Gelap dan pekatkan fatamorgana
Samar…mengaburkan wajah derita
Seperti mimpi berselimut cinta
Membasuh raga dalam khayal yang nyata.








Monday, 7 April 2014

Gundah

Sebuah cerita sebuah derita
Elegi cinta terbingkai dihati yang mencinta
Berderu dalam duka dan nestapa.
Bernyanyi di bibir rindu yang menggema

Cinta hampa bertepuk derita
Cinta nyata berbingkai egosentris sang pujangga
Berabad cinta tak terbuka
Tersamar dalam sanjung dan puja-puja

Kemilau embun dimata pagi
Tersungging damai dikegelapan
Kencana biru telah lama menanti
Tak juga kembali dari keterasingan

Berpijak dibawah lazuardi yang melaju
Tak berarah berkalang rindu
Kata aku, kamu di urat nadi
Tak berarti terucap hanya sekali


Ruang dan waktu tak menyatu
Dibibir malam yang kian tersulam
Gelap…
Gelap dan pekatkan fatamorgana
Samar…mengaburkan wajah derita
Seperti mimpi berselimut cinta

Membasuh raga dalam khayal yang nyata.

Friday, 4 April 2014

Tulang Rusuk Siapakah Aku?

Sesak didada ini tak ada yang mampu sembuhkan. Ingin aku terbang bebas kesana-kemari dan menari-nari dari ranting ke ranting, dari dahan kedahan yang lainnya seperti burung. Namun semua tak mampu ku lakukan. Kadang aku menyalahkan diri ini ketika tak jua datang mentari yang hendak sinari gelapnya hati ini. Kadang aku bersedih tiada henti hanya karena menyalahkan diri karna tak bisa seperti orang lain yang bisa dengan mudah beroleh pasangan sejati. Aku menyerah dalam pertempuran yang belum kumulai. Rasa sakit dan ketakutan itu masih saja membayangiku ketika ku ingin memulainya kembali. Lagi-lagi aku gagal dan gagal meraih cinta nan hakiki.
Sebenarnya cinta itu apa?. Sebenarnya sayang itu apa?, Apakah hanya aku yang begini. Apa ada yang salah dengan diriku hingga detik inipun aku masih sendiri. Apakah ada yang menginginkan kehadiranku. Apakah hanya aku yang merasakan semua pertanyaan yang bertubi-tubi ini. Aku bingung dan tak ingin tersesat dalam arah yang salah seperti masa lalu. Aku tak ingin mencinta dan mengharap pada yang tidak tepat. Aku lelah menanti, aku tak kuat lagi menantinya. Sampai kapan aku harus menanti dicari yang mencariku. Apakah aku ini bagian dari tulang rusuk seseorang yang kelah akan membimbingku. Ataukah aku hanya seoonggok daging tak berguna.
Aku ingin bahagia. Aku ingin menjadi istri. Aku ingin menjadi ibu yang mampu melahirkan dan mendidik keturunanku kelak. Aku ingin menjadi panutan, yang nasihatnya akan didengar. Aku ingn menjadi hamba yang taat, kepada Sang Khaliq dan imamku. Tapi apakah didunia ini aku akan bertemu dengannya. Kapankah waktu itu hadir menyapaku dalam sepi ini. Lelah aku berceloteh mencarinya. Apakah aku ini dicarinya. Ataukah tak pernah sama sekali aku dicarinya.
Serumit inikah aku. Senista itukah aku, hingga aku ini bukan tulang rusuk siapapun. Aku ini tulang rusuk siapa. Segala daya aku mencarinya, tapi tak pernah ku temukan. Dalam do'a ku " Tuhan aku ini pantaskah jadi sebuah tulang rusuk, yang kelak akan berbakti pada-Mu bersamanya. Tuhan pantaskah aku ini untuk tubuhnya yang kelak akan membimbingku dalam setiap langkahnya untuk menuju-Mu. Tuhan jangan biarkan aku menunggu terlalu lama dalam ketakbergunaanku. Aku berserah hanya pada-Mu".
Waktu....Hanya waktu dan kehendak-Nya kami dipertemukan. Segalanya hanya pada-Nya ku kembalikan, dalam pasrah, do'a dan ihtiar.

Semu

Ku tertatih diujung senja
Dengan ringkih menyeret mimpi lalu yang menggantung
Selepas asa terkungkung dipundak derita
Kesana-kemari mencari jejak yang terbang

Samar membisukan asa didada
Sunyi hiasi bingkai imaji
Titik itu warnai pekatnya lazuardi
Sesaat namun berarti melekat

Apakah ini selamanya kan menyayat nurani???
Apakah ini badai abadi yang kan dilalui???

Mimpi...Bertabur luka dalam langkah tak pasti
Gerhana hendak kembali torehkan kenangan 
Alam gaib menggema gambarkan segala nestapa
Diketerasingan mampukan berjelaga dalam sunyi?

Ingin berbagi oasis yang menyejukkan. 
Ingin tenggelam dalam khayal yg alam ciptakan
Bersama itu akupun meragu
Sudikah langit bersua dalam keterasingan ini
Sudikah nestapa didalamnya tuk dibagi
Denganku...
Bersama mu...
Dalam keterasingan imaji yang tak pasti
Berpendar di telan waktu 
Menjerit dalam tawa biru langit sendu

Kembali...
Takkan kembali ku pertanyakan 
Sebelum ku tanya pada langit, mentari dan hujan
Sudah ku tahui itu tak pasti.
Mimpi...



Wednesday, 2 April 2014

Entah

Entahlah apa yang ingin aku tulis hari ini aku tak tahu apa yang aku rasakan. Kejadian itu masih saja menghantui hari-hariku. Perasaan itu telah aku pupuk sejak lama, seperti tanaman apabila diberi pupuk terlalu banyak atau terlalu sering disirami belum tentu akan tumbuh dengan sempurna. tetapi malah layu sebelum berkembang. Sama halnya dengan perasaan ini yang terus tumbuh disini, meskipun dirinya tak pernah berkembang sedikitpun. Bahkan layu dan membusuk sebelum berkembang. Manusia mana yang rela dihianati dan tak pernah dianggap, aku pun sama seperti kebanyakan manusia yang lainnya. Karena aku hanya manusia biasa yang hanya mampu berbuat dan berusaha sekemampuan ku, selebihnya hanya Tuhan yang menentukan.

Kesetiaan
Kesetiaan itu tidak ada apabila kita sebagai manusia tidak dianugerahi rasa kasih sayang atau cinta. Tetapi apakah kita pernah meminta pada Tuhan kalau kita ingin dianugerahi sebuah cinta itu. Aku tak pernah meminta, tetapi Tuhan selalu memberi melebihi yang aku minta. Bahkan memberi cinta yang berlebih, sehingga aku harus setia pada cinta yang tak akan pernah aku miliki.
Butuh waktu lama untuk aku berfikir tentang apa yang telah Tuhan berikan padaku, apakah rasa cinta itu ataukah sayang itu pada seseorang yang sebenarnya tidak tepat untuk aku cintai dan sayangi. Cinta itu memang membuat ku buta, telah menyia-nyiakan waktu hanya untuk menanti seseorang tak pernah mencintai ku.

Aku hanya bisa realistis saja, karena cinta tak bisa dipaksakan. Seperti beberapa lelaki yang pernah mendekatiku, yang karena aku tak bisa menerima mereka karena beberapa alasan. Akupun tak bisa menerima perasaan mereka, seperti dia tak bisa menerima aku dan perasaan ku. Tetapi aku yakin nun jauh disana seseorang sedang menantiku, memikirkan kapan Tuhan akan mempertemukan kami. Aku yakin dan percaya suatu saat nanti pasti akan indah pada waktunya. Meski didunia kami tak dipertemukan, tapi di akhirat kelak kami akan dipertemukannya di surga-Nya.

Gest....^^,

Rindu

Aku melangkah tersendat di reruntuhan
Meraih segala dalam kegelapan
Aku berlari terseret arus mimpi
Bertepi di dahan yang telah mati

Terlanjur rapuh untuk menanti
Bertasbih mengharap sinarnya kembali
Tiada daya terjebak di lembah yang asing
Berkelana beriring sunyi yang bergeming

Embun menghilang dibawah mentari
Lautan air mata tak mampu puaskan dahaga ini
Berlarian...
Berlarian kesana kemari mencari jejak yang berceceran
Mencari kumpulan puzzle mimpi yang hendak ku tata di bingkai hati

Aku asing bagimu
Engkau asing bagiku
Apakah sekelumit benang kusut itu bisa terjalin utuh???
Ataukah hanya mimpiku yang tak pernah berujung???

Ilusi...
Mimpi...
Imaji...
Semu...
Samar tak terbyar
Tak akan terucap apa lagi terungkap

Mimpi buruk selalu menghantui
Biar cermin retak itu tak kembali terpecah-pecah
Berkeping-keping hingga butirannya tak berarti 
Menyayat-nyayat kotak tua yang terlanjur ku pilih

Benci berkelana dalam sepi
Mengaduh ingin bingar ditepian waktu
Berfikir dalam keterasingan kata
Mencari dermaga mana yg hendak berbagi cerita
Dalam tanya yang berlalu

Rindu.






Tuesday, 1 April 2014

Aku dan Dia

Cerita ini berawal dari sebuah kegiatan yang mempertemukan aku dan dia. Dimana dia berlaku sebagai panitia dan aku sebagai calon mahasiswa yang akan mengikuti kegiatan yg dia panitiai. Kegiatan itu adalah ospek atau masa orientasi siswa yang harus dikuti seluruh calon mahasiswa baru seuniversitas. Aku tak pernah menyangka kalau dari kegiatan itu melahirkan benih-benih yang nantinya memberikan aku motivasi sekaligus kesedihan berkepanjangan hingga bertahun-tahun lamanya. 
Hari itu acara tekhnikal meeting, kegiatan dimana seluruh calon maba/ mahasiswa baru yang ada dilingkungan fakultas yang aku pilih dikumpulkan untuk mengetahui tentang pembagian kelompok, barang-barang yang harus dibawa, dan pakaian apa yang harus dikenakan. Setelah pembagian kelomok dan pengumuman barang-barang yang hasru dibawa kemudian setiap kelompk diwajibkan memiliki lagu iyel-iyel yang nantinya akan di pertandingkan dengan kelompok-kelompok yang sudah dibentuk. Selain iyel-iyel kelompok ada juga iyel-iyel yang wajib kami hapalkan agar kegiatan ospek tersebut semakin semarak dan semangat.
Dari beberapa orang panitia, tiba-tiba aku tertarik pada salah seseorang yg tak pernah ku lihat sebelumnya. Dia bertugas sebagai kameramen atau entah apalah jabatannya aku tak terlalu perduli waktu itu, yang jelas dia sering keluar masuk ruangan dan anteng dengan kamera di tangannya. Sekilas kadang senyum simpul itu tersungging dipipinya. Sepertinya sih pendiam, entahlah aku hanya menebak-nebak saja, dari sana aku mulai merasa ada yang aneh dengan diriku ketika melihatnya. 
Kufikir awalnya hanya simpatik atau apalah aku tak mengerti. Berdasarkan pengalaman di masa-masa SMA aku ga mau mengulangi masa-masa itu lagi sebenarnya, aku aku berjanji dalam hati aku tak ingin bermain-main dengan yang namanya cinta. Aku berjanji pada diriku sendiri kalau aku tidak akan pacaran sebelum lulus kuliah dan bekerja. Namun kenyataan dan takdir berkata lain, tidak sesuai dengan apa yang telah aku janjikan pada diri sendiri. Ya...aku melanggar janji itu dan terjebak dalam sebuah hubungan yang disebut "pacaran" itu, meski hanya sebentar, namun efeknya cukup berdampak bagi hidupku. Aku enggan kembali membuka hati dan menjalin hubungan dengan siapapun dan aku terjebak terlalu lama dalam cinta yang semu selama bertahun-tahun.
Hidup setiap manusia itu tidak pernah sama, pasti berbeda apa yang pernah dialaminya, meskipun hampir sama tapi tidak pernah ada yang benar-benar sama persis. Sama halnya dengan wajah, karakter, perilaku, kebiasaan, selera, bahkah anak kembar identik sekalipun. 

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>to be continued<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<




Monday, 24 March 2014

Abadi

Entahlah....
Rasa sedih, senang atau muramkah ini
Seakan tawa menjadi sunyi
Dan waktu terus permainkan imaji

Persimpangan....
Hidup hanya persimpangan
Mesti tak ingin hanya tempat persimpangan,
namun apa daya tangan tak sampai
Dan waktu kembali permainkan

Tegarkan...
Tegarkan langit biar tak hujan
Menghujam deras di pipi bumi
Adakah pelangi yang sudi hiasi
Tuk leburkan duka dan pelipur diri
Seperti asap langit yang melenyap ditelan hari
Ikrar janji hendak dipatri
Hingga Arsy berguncang di hati

Tegarkan...
Tegarkan...
Sahabat, sudara tak seubeuti ...
Hancur Leburkan rasa memiliki
Sudikah kiranya tetap silaturahmi
Meski Engkau telah dipinang sang pujaan hati
Semoga engkau abadi sehidup semati
bersama sang pujaan hati.
Abadi...




Saturday, 22 March 2014

ILUSI


Dibawah langit yang sama
Diatas bumi yang sama

Bertahta dalam imaji
Berlari ke langit yang runtuh
Terdiam dalam tawa yang rapuh
Bergeming di pantai yang sunyi

Dibawah langit yang sama
Diatas bumi yang sama

Disini ku berlari
Sejenak hendak ku menepi
Meskipun waktu telah mencaci
Penopang raga akan terus mencari

Dibawah langit yang sama
Diatas bumi yang sama

Terhampar jejak menggoda mata
Tersesat dikeramaian yang mengada-ada
Tinggalkan tapak-tapak tanya dalam imaji





Tuesday, 18 March 2014

Sekali Seumur Hidup


Sebelumnya saya sangat bingung sekali apa yang harus saya tulis dan apa yang harus dibahas di blog yang baru saya buat ini. Saya sadar semua kenangan itu terasa indah apabila kenangan itu dapat kita abadikan. Apakah melalui tulisan, foto, gambar, vidio ataulah lukisan. Awalnya saya ragu dan tak tahu lagi apa yang harus saya tampilkan dan tuliskan di blog ini. Setelah saya lihat kembali isi flasdisk lama saya yang akhirnya ketemu lagi setelah sekian lama ngilang tiba-tiba (disembunyiin sama adik perempuan saya). Hahahahhaha... Saya cari-cari apa yang kira-kira menarik untuk saya pilih. dan akhirnya saya putuskan untuk menguplod foto wisuda saya bersamakedua sahabat saya (Intan=no 2 dari kiri, Siti=Kanan, tengah=pak Marten Yogaswara)  dan dosen pembimbing saya ketika nyusun skripsi. 
Entah apa yang ada dibenak saya ketika memilik foto itu, yang pasti masih jelas di ingatan ku bahwa meminta foto bareng dosen ku yang satu itu sulit sekali. Hingga akhirnya kami bertiga bisa berfoto bersama dosenku itu. 
Tak pernah ku bayangkan sebelumnya bahwa akhirnya kami bisa wisuda bersama. Karena sebelumnya banyak sekali halangan dan rintangan yang kami lalui bersama dalam persahabatan kami. Awalnya kami berlima (Witry/witrai, I_Cuburayot, T_Moutzz, S_Tai, & Ries_Mout=panggilan sayang ku pada mereka) hingga akhirnya tinggal kami bertiga yang tersisa dalam status persahabatan ini. Awal-awal semester kebersamaan dan kekompakan kami seakan tak ada yang mampu mengalahkan. Sampai-sampai kami berlima sering menginap bareng bergiliran di kontrakan kami masing-masing. Entah mengerjakan tugas bareng, makan bareng (Mayoran / Botram = kata orang sunda mah), Jalan bareng, belanja bareng, keperpus bareng, semuanya serba bareng kecuali klo mandi dan bab (Sempit klo ke WC berlima). :-D. 
Ternyata benar kata pepatah "Ada pertemuan pasti ada perpisahan", dan itulah yang terjadi pada kami berlima. Karena sesuatu hal yang cukup aku dan Tuhan yang tahu, akhirnya dari berlima menjadi hanya bertiga saja. Tetapi setiap apa yang telah kami lalui saat berlima maupun bertiga, semua itu adalah kenangan dan pengalaman hidup ku yang paling memberikan berbagai macam rasa dan warna, ada yang manis, asin, pahit, kecut, asam, asin, dan berwarna-warnni seperti pelangi. Aku bersyukur aku telah mengenal mereka dan pernah berbagi suka dan duka bersama dikala kami harus hidup terpisah dari orang tua kami. mereka pulalah yang banyak memberikan pelajaran padaku tentang arti hidup, sebuah persahabatan dan rasa saling memiliki seperti saudara kandung sendiri. Padahal sebelumnya tak pernah ada hubungan apapun diantara kami, apakah saling mengenal bahkan ada hubungan darah. 
Itulah hidup, kadang bersama, kadang sendirian dalam kesepian. Kadang ku bertanya "mengapa harus berpisah bila masih bisa bersama??", namun itulah realita. Tak selamanya kita harus bersama apabila ada hal lain yang memaksa kita untuk berpisah. 

I hate alone!!! 

Dari foto yang ku ambil sekitar 2 tahun lalu itu, aku semakin mengerti tentang arti sebuah moment/peristiwa. Peristiwa penting yang aku ataupun orang lain alami tidak akan dilupakan seumur hidup. Terutama ketika aku menjadi salah satu dari wisudawan dan wisudawati saat itu. Perasaan ku campur aduk, ada sedih, ada senang karena bisa lulus tepat waktu tanpa harus berlama-lama kuliah dengan biaya besar yang nantinya akan merepotkan kembali orang tua ku. Sedih harus berpisah dengan teman-teman tercinta dan para dosen, dan suasana perkuliahan yang sudah menjadi keseharianku. Tapi Tak apalah, ini saatnya aku dan teman-teman untuk berpisah serta melanjutkan hidup kami masing-masing ke tengah masyarakat luas. Entah apa yang akan terjadi dikehidupan kami nanti. Yang pasti kami telah berhasil menuntaskan setengah dari kewajiban kami kepada orang tua kami masing-masing.  


Intinya = Kebersamaan itu lebih berarti dibandingkan kita harus menjalaninya sendiri. Tak ada rasa, tak ada warna, yang ada hanya hampa dan tersiksa.  
Geist....Gambatte!!!! (^_^)p