Thursday, 10 April 2014

Bungkam

Bercermin aku dalam gelak tawa semu
Berbingkai dinding nan kelabu
Tertinggal sendu disudut lazuardi yang membiru

Berdebu hati berucap kelu
Benderang kabur yang membalut kalbu
Terpikat mimpi dalam sembilu

Acuh tak acuhkan masa lalu
Bertabur kejora menghunus harap palsu
Akan indah pada paras yang merindu
Syahdu dalam irama pilu

Pecahan itu tercabik dan mendebu
Terhempas angin kesegaran fatamorgana
Seketika merekah dan melayu
Sendu tak bergeming dalam dekapan tawa


Mimpi nyata isyaratkan pertanda
Halusinasi cinta menari-nari dan meronta
Berkelit di ruang sunyi kian merdukan telinga

Berkecamuk naluri dalam seribu langkah
Berdalih dan ingkarkan naluri yang bersilat lidah
Berserah dikegamangan khayal penuh petuah

Tersamar mimpi dalam tabir mentari
Elokan paras menjulang nan hakiki
Gemuruh badai lukiskan halus pekerti
Diiringi nyanyin pujangga penuh misteri

Wahai.....penyanjung ilusi
Mimpikah hidup dalam bayang imajinasi
Titisan dewa-dewi bernyanyi
Utarakan nalar yang merajai

Wahai.....sang penyanjung materi
Terkaparkah engkau penuh sanjung puji
Wakili alam yang bersenandung simponi
Terbungkus sutra dipinggir pantai suci

Mimpi......
Ilusi....
Khayal....
Getarkan urat-urat nadi
Bersenandung bersama para bidadari
Tersayat-sayat sembilu yang tak terobati
Tinggalkan lusuhnya kepingan-kepingan hati
Akhir mimpi...










No comments:

Post a Comment