Monday, 19 February 2024

Lanjutan 22/02/15, 18.21 WIB

Ini memang salah....
Sejak awal aku memang salah, telah memilihnya sebagai orang yang mampu gantikan posisi laki-laki yang selama ini mengisi relung hatiku. Aku tak pernah menyangka akan mengalami hal serupa. Jatuh cinta pada laki-laki yang tak kukenal secara langsung. Hanya melalu media sosial blog, twitter dan instagram saja. Tuhan memang paling tahu apa yang terbaik untuk hambanya. Aku tahu ini hubungan yang tidak akan berhasil. Aku seharusnya tidak terlalu terbawa suasana dan tak memiliki perasaan ini untuknya. Dia terlalu sempurna untukku yang terlalu biasa dan tak menarik. Sempat terlintas ingin meminta bantuan sahabatku Ia yang notabene satu kantor dengannya. Tetapi aku tak mau merepotkannya dan hingga kini niatan itu selalu aku urungkan. Karena belum tentu dia mau berteman dengan aku juga. Hingga kini aku masih saja menstalkingnya alias mengawasinya dari jauh. Aku tak ingin kecewa seperti dulu, karena aku hanya bertepuk sebelah tangan. Diusiaku saat ini memang sudah tak pantas untuk main-main lagi. Apa daya tangan tak sampai, hanya mampu berusaha dan berdoa. Berkenalan dengan berbagai macam orang telah aku jalani. Semuanya tak ada yang berhasil dan mampu menarik perhatianku seperti dia.

Thursday, 3 December 2015

Karena Tuhan Aku Jatuh Cinta

Detik, hari, minggu dan bulan telah berlalu. Disini aku masih terpaku pada rasa yang kian menusuk kalbu. Sering aku sangkal rasa itu biar aku tak jadi ragu, biar aku tak lagi menangis pilu hanya mampu menatap kelopak mata sendu yang aku rindu. Ini tidak benar, tidak pernah benar untuk aku jalani sendirian tak berkawan. Lagi-lagi kembali terjerat dalam pesona yang tak mudah memudar. 

Hampir satu tahun aku membisu dan mengasingkan diri dari dunia luar. Membekap seluruh gerak dan tawa dalam kesunyian. Entah apa yang ada dalam benak ini hingga aku terasing di keramaian. Aku kehilangan komunitasku dan tersesat dalam krisis kepercayaan diri di lingkungan. Fikiran-fikiran negatif di benak menguasai diri yang ketakutan. Ketakutan berkepanjangan menyempitkan akalku yang berfikiran terbuka selama ini. Aku sadari aku kehilangan diriku yang dulu, diriku yang berani menantang dunia, berani menghadapi kepahitan hidup dengan senyuman. Kini aku merasa kerdil di tengah luasnya lingkungan, seakan enggan bergaul atau hanya sekedar bertegur sapa dengan tetangga. Ketakutan dalam diri berhasil membelenggu aku, berhasil menghantui jiwa ini dengan kata-kata yang selalu terngiang "Kapan Nikah? Kenapa belum kerja? Kenapa dirumah aja?" dan kenapa-kenapa lainnya yang membuat aku muak. Kalau bukan karena kasih sayang Tuhan mungkin kini aku sudah gila.

Aku tahu aku terlalu berlebihan dan berfikiran negatif, ataukah aku terlalu sensitif menghadapi setiap persoalan. Entahlah aku bingung. Aku sudah berusaha menjadi manusia yang tak mau mencampuri urusan orang lain dan tak mau tahu apapun yang mereka katakan tentang diriku. Aku selalu berusaha semampuku untuk tak menghiraukan sikap sinis mereka terhadap keluargaku terlebih padaku. Usiaku memang tak lagi belia, sudah seharusnya aku berkeluarga dan memiliki karir yang cemerlang. Manusia hanya mampu berusaha dan berdoa selebihnya Tuhan yang menentukan. 

Dari dulu aku memang tak pandai bergaul, teman-teman akupun sedikit. Aku pernah sekali menjalin hubungan yang dikatakan Pacaran. Itupun tak bertahan lama, karena aku merasa tak nyaman dan merasa aku telah merusak semua pertahanan yang selama ini aku bangun selama bertahun-tahun. Aku memang muda tetapi pemikiranku memang tua. Aku baru berpacaran saat di bangku kuliah, selama ini aku hanya fokus pada pelajaran dan prestasi akademik tanpa memikirkan yang lainnya. Aku masih wanita normal, aku pernah jatuh cinta juga ketika di bangku sekolah menengah pertama. Aku mulai jatuh cinta dan cinta monyetku bertahan hingga sekolah menengah atas dengan orang yang sama karena kebetulan aku sekelas dengan Dia di kelas 3 sekolah menenngah pertama dan sekelas di kelas X di sekolah menengah atas. Kemudian berlanjut ke cinta monyet yang lainnya, tak perlu aku sebutkan hingga detai biarkan itu jadi masa lalu yang aku simpan. Hingga akhirnya kini akupun Jatuh cinta pada Dia yang nunjauh disana, yang kembali berhasil meluluh lantahkan hati dan fikiranku. Aku memang naif dalam urusan cinta, karena aku sadar cinta tak harus memiliki. Aku serahkan semuanya kini pada Tuhan  yang membolak balikan hatiku dan hatinya. Hanya melalui doa akutitipkan dia pada Tuhan, aku sadari belum tentu dia mimikirkanku, mengenaliku saja tidak. Aku selalu percaya ini bagian rencana Tuhan untuk hidupku. Dipenghujung tahun ini aku mungin masih sama seperti dulu, namun tidak hatiku yang lebih bisa menerima apa adanya diriku. AKu tak mau banyak menuntut pada Tuhan, karena dengan masih bernafasnya diriku hingga aku rangkaikan kata-kata ini saja aku sudah bersyukur. Untuk meminta lebih dari ini aku tahu diri. 

Memperbaiki diri kini prioritasku, kembali bangkit dan mewujudkan cita-citaku itu yang utama kini. Jodoh, rizki dan kematian, aku pasrahkan seutuhnya pada Tuhan. Aku begini bukan berarti aku putus asa, akan tetapi aku sadar hidup tak akan selamanya aku genggam. Kalau bukan sekarang kapan lagi aku mendekat ke Tuhan, mau sampai kapan aku meratapi diri dan  menyalahkan diri dan lingkungan karena aku tak bisa menemukan belahan jiwa, menikah, memiliki anak, memiliki karir cemerlang dan bahagia.

Diakhir tahun ini semoga apa-apa yang telah terjadi dan aku lalui menjadi pelajaran berharga yang mampu mendewasakan aku dalam bertindak maupun berfikir. Semoga Allah selalu menuntun aku pada jalan yang lurus dengan cahaya iman yang selalu menyinari hati ini. Dan aku titipkan Dia hanya pada-Mu, apapun yang terjadi nanti, dengan atau tanpanya kelak aku bersanding. Aku jatuh cinta, teramat cinta, aku sayang padanya dan aku selalu mendukungnya. Demi Engkau Tuhanku yang telah sematkan rasa cinta ini. Karena-Mu aku jatuh cinta. 










Thursday, 5 November 2015

Daun Yang Berguguran (Heart)

Dan akhirnya kamu lulus juga. Aku ikut bahagia dan bangga dengan pencapaianmu, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu. Maafkan aku masih belum juga move on darimu Akar. Aku tahu ini salah. Ini tidak seharusnya. Apalah mau dikata hati ini hanya milik-Nya, hanya Dia yang mampu membalikan hati ini. Aku manusia biasa yang tiada daya dan upaya. Banyak hal yang tak mampu aku utarakan secara langsung padamu Akar. Ya...aku tak mampu menyebut nama lengkapmu, aku sangat menyukai namamu juga nama penamu. Untuk menyebutnya saja hatiku bergetar. Mungkin kamu tidak akan mempercayai apa yang aku katakan ini. Tapi inilah aku, aku yang tak bisa lagi membohongi diriku padamu. Sejujurnya aku ingin tahu bagaimana tanggapanmu jika membaca ini. Aku terlalu pengecut untuk menyadari kenyataan yang akan aku terima lagi. Sama seperti sebelumnya. Kamu memang bukan yang pertama bagiku dan akupun bukan perempuan pertama yang seperti ini padamu. Bila melihat ketenaran yang kau miliki.

Kemungkinan untuk kita bisa bertemu dan berteman itu kecil, jarak dan kota kita saja berbeda. Kamu adalah bagian dari perjalanan hidupku, proses pendewasaan hatiku untuk menjadi wanita tegar yang tak boleh mengharapkan apapun meskipun itu hanya sebuah pertemanan. Aku ikhlas dan menerima semua ini, apa yang aku jalani sekarang adalah perjalanan yang harus aku arungi hingga kelak aku akan bertemu dengan imamku. Pria yang akan membimbing dan membawaku kehadapan Tuhan dengan mulia. 

Berdoa, menangis, hanya itu yang bisa aku lakukan. Kelak bagaimanapun akhirnya aku akan tetap mendo'akan yang terbaik untukmu. Semoga kau dan aku secepatnya menemukan belahan jiwa yang telah kita nanti. Sukses selalu Akar, aku sayang padamu dengan segenap hatiku, setulus tetesan embun yang menyejukan. Aku tak akan pernah berharap lebih pada apa yang aku rasakan padamu. Aku sangat berterima kasih karena Tuhan telah hadirkan kau dalam perjalanan hidupku, meskipun kau bukan persinggahan terakhir hatiku. Akar Ich liebe du. 





Wednesday, 5 August 2015

Tak Ada Yang Salah

Kata demi kata yang ku rangkaikan ini hanya sebatas pengalihanku, pengalihan duniaku dari dunia nyata. Semua yang berhubungan denganmu ingin aku musnahkan. Sekali lagi dan ingin sekali aku enyah dari dunia yang sebagian sisakan kesedihan, kekecewaan dan duka. Apa yang ada di hati ini tak sanggup aku gambarkan bagaimana besarnya. Sebatas aku mengenalnya di dunia maya, aku rasa seperti mengenalnya jauh lebih lama. Aku ingin mengerti dirinya, aku ingin memahami setiap kesedihan yang tergambar di raut wajahnya. Setiap duka yang mengendap di setiap kata-kata yang terlontar dari mulutnya. Semua itu tak mampu aku obati. Ruang dan waktu terlanjur memisahkan jarak diantara kami. Jerit hati ini semakin kencang dan tak ada yang mampu mendengarnya. Dilubuk hatiku yang paling dalam, aku tak ingin lagi kehilangannya untuk yang kedua kali. Seperti aku kehilang Dia yang kini telah bersama belahan jiwanya. Aku ingin jadi belahan jiwanya. Apa dayaku aku hanya makhluk hina yang banyak keinginan dan berlumur dosa. Akankah aku bisa bersamanya. Kami seperti langit dan bumi, Seperti bulan dan matahari.

Kadang aku tak rela melihatnya bersama yang lain. Aku sadar aku bukan siapa-siapa dimatanya. Tetap saja aku tak rela melihatnya dan tanpa terasa jantung ini seakan ditusuk-tusuk belati tajam. Terus menghujamnya tanpa henti, seakan mampu membunuhku secara perlahan karena sakitnya. 

Dalam sepi....sering terlintas ingin aku ungkapkan secara jelas tanpa terlewatkan sedikitpun apa yang terpendam di hati ini. Tak perduli apa yang akan aku dengar dari mulutnya. Apakah itu penolakan, kebencian, atau rasa jijik yang aku terima. Yang pasti aku tak sanggup dengan rasa ini. Terus terabaikan, tak diinginkan, dan di tuduh yang bukan-bukan tanpa tau siapa diriku yang sebenarnya.

Hanya lewat tulisan ini, di blog yang aku buat ini dua tahun lalu. Aku hanya ingin mengabadikan apa yang sedang aku rasakan dan alami dalam hidupku. Karena suatu saat nanti mungkin aku akan merindukan hal-hal seperti itu, sekalipun pengalaman buruk yang aku alami. Bisa pula sebagai dokumen bagaimana kisah hidupku yang kelak akan aku bagi dan ceritakan pada anak cucuku. Itupun jika Tuhan mengijinkanku melalui fase itu "menua".

Hidup ini panggung sandiwara, dan kita harus mampu menjalankan scenario Tuhan dengan baik. Apakah itu scane yang membahagiakan ataupun scane yang menyakitkan yang harus dilalui setiap detik, menit, hari dan tahun yang entah sampai kapan kita akan mengakhirinya. Kemudian kembali menghadap-Nya untuk mempertanggungjawabkan semua peran yang kita lakonkan semasa nafas dan jiwa masih menyatu dengan raga.


Hmmmmm.....hari ini begitu sensitif. Tak terasa dari tadi kristal-kristal ini tak mau juga berhenti keluar dari tempatnya. 

Monday, 3 August 2015

Sepenggal Jalan



Setapak jalan yang berliku
Kini tertinggal jauh dalam kenangan
Cukup saja hal itu di masa lalu

Kemarin, kini dan esok akan terasa berbeda
Seperti ruang dan waktu kita yang tak pernah sama
Terlampau tinggi angan di mata
Selamanya tak mungkin satu kata

Dua partikel yang saling tak seirama
Ialah air-api, air-minyak dan lainnya entah aku tak tau lagi
Tak bersatu bukan berarti tak ada satu kata kunci
Hanya saja Tuhan punya maksud lain untuk mereka

Tak perlu lagi ku susuri setapa demi setapak
Bila tak tinggalkan setitik jejak
Sejak melangkah di pasir berarus
Mudah terhapus terus tergerus

Terlalu kentara untuk berlari sambil menengok
Akan tersandung jatuh dan terseok
Hanya luka yang akan jadi duka
Bila mata dan hati tidak lagi ditata

Jalan disusuri semakin berkelok
Begitupun waktu berlalu takkan kembali
Cukup saja disini
Setiap kata yang jatuh bersama setiap kelopak

Tutup mata, Tutup lisan dan Tutup telingan = dari makna yang sebenarnya



Hijaunya dedaunan padi yang terayun-ayun oleh lembutnya hembusan angin
Sejukkan seketika racaunya jiwaku
Semilir angin yang pula berhembus di pipi ini
Seketika bisikan tawa dihatiku
Entah apa yang sedang Tuhan rencanakan untukku
Sebagai hamba yang hina dina di muka bumi, aku selalu percaya apa kata hatiku
Meski ku tahu indah itu bukan hanya yang dimata, bukan hanya yang dirasa, bukan hanya yang memuaskan, bukan hanya yang menyenangkan, bukan hanya jabatan,bukan hanya pasangan yang cantik atau tampan, bukan pula segala kekayaan, tapi rasa syukur
Aku bukan siapa-siapa yang patut didengar pendapatnya, yang patut di contoh kepribadiannya, yang patut dikagumi kecantikannya, yang patut dibanggakannya kebaikannya
Aku hanya aku
Diriku yang tak kau tahu
Hanya aku dan Tuhan yang tahu siapa aku
Siapapun berhak menilaiku
Akupun begitu

#Lainnya
Serdadu-seradu berhasil lumpuhkan kakiku
Ketika itu hanya tinggalkan kulit berbalut tulang
Tak akan bagiku menyerah hanya karena kelemahanku
Malu bukan musuhku
Meski yang lain teriak menginjakku
Hanya karena aku ingin seperti padi yang menua
Takkan gentar ku tengadahkan tangan ini, ku tundukkan kepala ini hanya ke Yang Maha Memiliki Jiwa dalam genggamannya
Pelajaran yang paling mencambuk hidup ini, dan rasanya lebih dari cambukan dikulit yang akan berbekas
Hanya syukur yang teapt tuk terucap
Lisan memang lebih tajam daripada pedang, mata memang lebih berbahaya daripada hati, telinga memang lebih berbahaya daripada hati, telinga memang lebih berbahaya daripada fikiran

Sunday, 2 August 2015

And Than See

Kali ini aku gagal lagi. Lagi-lagi namanya masih dengan jelas memenuhi seluruh isi relung hatiku. Nama yang entah sampai kapan akan terpatri disana. Apa mungkin hingga hal itu terulang kembali seperti Ijot, panggilan sayangku untuk lelaki yang selama enam tahun kebelakang hanya menganggapku sebagai temannya. Apa aku harus menyerah hingga dia menikah dengan orang lain yang lebih dia kasihi dan hargai. Bukan aku dan bukan aku lagi begitu???. 
Hidup ini terasa begitu kejam bagiku, terutama bagi perjalanan asmaraku yang tak seperti orang lain. Lagi-lagi aku merasa iri dengan orang lain dan malah merutuki diriku sendiri yang tak seberuntung mereka dengan mudah bisa menemukan belahan jiwanya. Sedang aku bertahun-tahun harus sabar menunggu menemukannya, menemukan belahan jiwaku yang entah dimana, sedang apa dan apa dia sedang mencariku juga. Aku sadar aku tak perlu sesetres itu memikirkan hal yang belum terjadi dan entah akan aku alami atau tidak dalam perjalanan hidupku. Seharusnya aku banyak bersyukur karena Allah masih sangat sayang padaku dan selalu menjaga aku dari perbuatan yang dapat merugikan diriku sendiri. 
Aku masih saja bertanya-tanya pada diriku sendiri, apakah aku seburuk itu hingga setiap aku jatuh cinta aku selalu jatuh cinta pada orang tidak tepat, mengacuhkanku, tak aku kenal secara langsung dan mengenalku dengan baik. Seperti saat ini ni sama dia yang namanya sangat familiar sekali. Aku ingin menyebut namanya, tapi......aku malu takut ketahuan, walaupun aku yakin dia sudah bisa menebak sikap dan caraku dalam kado yang pernah aku kirimkan itu. Entahlah....hingga detik ini aku masih penasaran dengan sikap yang dia tunjukan dan nasib kado itu. Apakah dia menyimpannya? Apakan dia membacanya, maksudnya membaca catatan kecil yang aku tinggalkan? Apakah dia memakainya? kado yang aku berikan padanya tiga bulan yang lalu. 
Ooooh.....aku bisa mati penasaran kalau begini caranya. Aku sungguh tak bisa menebak jalan fikirannya. Di satu sisi dia begitu terlihat terbuka, tapi disisi lain seperti ada tembok besar yang tebal yang tak seorangpun diijinkan memasukinya termasuk aku si orang asing. Aku serba salah, karena aku memang berada diposisi yang salah. Aku tak ingin menyalahkan Allah yang menganugerahiku rasa ini padanya, aku hanya tak sanggup lagi memikulnya. Benar apa kata ibuku, aku memang tak seharusnya mengagumi dan mengharapkannya walaupun hanya sebatas pertemanan. Karena hanya akan menyakitiku saja akhirnya, sama seperti aku pada ijot. Apa yang harus aku lakukan, ingin aku menghapusnya dari ingatanku dan hidup kembali normal seperti biasa. 
Kalau aku mengikuti hawa nafsuku, mungkin saat ini aku sudah minta dikenalkan sahabat karibku sewaktu SMA dulu. Setahuku dia mengenalnya sangat baik, karena pernah satu kantor dengannya dulu sebelum resign dari pekerjaannya. Hanya saja aku tak mau melibatkannya, sudah terlalu banyak aku menyusahkan orang lain. Ini lagi urusan pribadiku saja aku harus minta bantuan orang lain. Huft.....payah banget.
memang sudah umum perempuan masa kini yang mendekati laki-laki lebih dulu, tapi apa kata dunia kalau aku yang melakukannya. Meskipun segini aku sudah terlalu berani juga dengan belaga sok-sok'an jadi secret admirer buatnya dan lancang dua kali mengiriminya kejutan kecil. Kata teman-teman aku cewek romantis, karena aku suka dengan pusi, lagu-lagu melow dan drama romance. Aku akui itu, tapi ternyata dia tak menyukainya. Bahkan ketika aku isengin dia dengan beberapa puisi karangku, dia malah bilang aku "Lebay", "Lebay Banget, Ga Jelas!!!". Rasanya saat itu sakit banget, baru kali ini ada yang bilang puisiku lebay. Padahal dulu cowo-cowo yang pernah aku kirimi puisi ga pernah bilang gitu secara langsung, meski ga tau ya di belakang gimana, I don't know. Tapi dia....iya dia...dengan gamblang bilang aku "Lebay", dia juga "Lebay" kok di status-status yang dia twitt. Ga sadar aja dia. Huft. 
Aku tetep suka dia kok apapun kelebihan dan kekurangan dia, ceeeileeeh so sweet banget kalo kata orang-orang mah.hahahah. Wit dodol aku emang aneh dan kadang eror sendiri. Oya lagi ngapain ya dia di utan, jadi pengen kemping juga kalo liat foto yang dia posting. hmmmm....gda abisnya sih kalo udang ngomongin dia. hussssss katanya mau move on eh ini malah asik bicarain dia. Ok sorry deh ya "Akar" aku emang ga sesuai buat kamu. Sangat-sangat ga sesuai sekali, karena aku ga sebanding dengan kamu yang perfect banget dalam segala hal. Pintar, jenius, good looking, pergaulan luas, banyak teman, menguasai banyak bahasa, rajin dan soleh "ga tau juga ya kalo yang itu kebenarannya" hanya kamu dan Allah yang tahu. 
Dengan sadar aku akan mundur teratur, maaf-maaf kalo aku sering stalking kamu. Aku suka penasaran aja kamu lagi ngapain. heee ^_^v  
Perlahan-lahan kalau kesibukanku kembali, aku akan bisa lupain kamu "Akar" tanpa kamu suruh. Sukses ya buat kamu, Allah akan selalu menjagamu dimanapun kamu berada. Semoga kamu dan aku segera menemukan orang yang tepat. Amiiin.