Entah apa yang ada difikiran ini. Entah apa yang aku rasakan saat ini. Entah apa yang ingin aku gapai, seakan aku tak memiliki lagi cita-cita. Aku seperti tak lagi mengenali diriku sendiri. Tak tau apa tujuan yang ingin dicapai dan ingin diraih. Apa ini matirasa??
Aku tak mengerti akan diriku, sehingga apa yang aku jalani seperti tidak bermakna sedikitpun. Aku sendiri selalu bertanya-tanya mengapa aku seperti ini dan mengapa aku bersikap seperti ini. Meski begitu masih ada sedikit celah yang mampu menembus dinding hatiku.
Dia...Dia yang tiba-tiba hadir dihidupku. Sebenarnya aku tak ingin terhanyut lagi dalam angan-angan yang kelak akan menghancurkan diriku sendiri. Apalah daya aku yang hanya manusia biasa, apalagi mengenai sebuah anugerah yang Allah titipkan pada relung hatiku. Meski tak menginginkannya Allah akan tetap memberikannya. Meski begitu menginginkan Allah belum tentu memberikannya. Aku memang harus terus berfikir realistis, karena kehidupan itu bukan sebuah dongeng yang semuanya pasti berujung kebahagiaan didunia. Yang terpenting saat ini aku harus fokus menggapai mimpi dan cita-citaku yang semakin tertunda karena kemalasanku akhir-akhir ini. Aku memang kalah sebelum berperang, tetapi aku sadar aku tak bisa meraihnya dengan mudah. Tarutama akuhanya perempuan biasa yang tak punya kemampuan dan bakat lebih sesuai dengan kriterian Dia yang mungkin sangat sempurna. Aku mungkin punya cinta dan kesetiaan yang lebih besar dibandingkan perempuan-perumpuan idamannya. Hanya itu yang aku miliki dan hanya itu yang bisa aku tawarkan padanya yang belum tentu mau menerimaku dengan segala keterbatasanku.
Alasan lain mengapa aku tidak yakin karena lagi-lagi laki-laki itu tak mengenalku dengan baik, bahkan kami tak pernah saling bertemu. Aku tak ingin lagi merasakan seperti pungguk merindukan bulan. Aku tak ingin kepahitan yang ku buat sendiri akan aku alami lagi untuk yang kedua kalinya. Maka aku putuskann untuk tak mengenalnya lebih jauh lagi dan aku lebih memilih mundur sebelum mengenalnya. Aku juga sangat berterima kasih sekali padanya, berkat Dia aku bisa melupakan kepahitan yang selama hampir 6 tahun ini aku rasakan. Kehadiranya seperti pelita dalam kegelapan, seperti obat penawar bagi lukaku yang tak kunjung mengering. Berkat Dia juga kini aku bisa lebih menghargai waktu dan kesempatan yang aku miliki. Terima kasih aku ucapkan. Meski ucapan itu tak sebanding dengan perubahan yang Dia timbulkan padaku saat ini. Kalaulah aku punya sesuatu yang biasa aku bagi untuknya sebagai rasa terima kasihku, maka akan aku bagi dengannya.
Dia mungkin tak akan pernah tahu aku dan tak akan pernah tahu apa yang aku rasakan dari perubahan ini. Melalui Dia Allah telah meberikan penawar dari lukaku.Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat untuknya, dan mengijinkan aku bertemu dengannya.
No comments:
Post a Comment