Ini yang aku kirim padanya di tanggal 22 Agustus 2014 pukul 07:055
Mentari
Cahayamu terangi semesta
Sinarmu hangatkan bekunya dunia
Caramu ramu segala
Tak ayal jauh dari logika
Mentari
Termasyhur di seluruh negeri
Memainkan peran yang penuh teka dan teki
Ilusimu membakar seluruh kecemasan di naluri
Hingga lenyap
Dan tinggalkan abu yang tak berarti
Mentari
Kilauan cahayamu butakan para penyanyjung mimpi
Tak seorangpun mampu tuk pandangi
Mimpi-mimpi maupun simponi
Tak ayal waktu yang terhentak ditepi ilusi
Hanya iringi sinarmu
Hendak menjauh kembali
Kesadaran dan penyesalan itu selalu datang terakhir dan terlambat. Aku tak pernah menyesal telah mengirimkan kata-kata tak berarti ini. Ini hanyalah sebuah tulisan, aku fikir ini tidak terlalu perlu dipermasalahkan. Disukai atau tidak hanya ini yang bisa aku lakukan untuk memberikannya semangat.
Tanggal 25 Agustus, pukul 08:59
Tanda tak bertuan
Berbingkai imaji membenam di kegelapan
Lengkungan itu tak bisa berpaling dari pandangan
Meski sekilas, namun berikan kekuatan
Tak bisa berujar, berlari berkejaran
Yang terpatri hanya ilusi dibayangan
Cukup waktu yang ulangi segala
Hanya jingga....
Ilustrasi warna penuh makna
Kata-kata balasan darinya menyadarkan aku bahwa aku bersalah mengganggunya. Aku pastikan tak akan muncul lagi darinya. Meski suatu saat nanti waktu pertemukan kami. Aku akan menghindar darinya yang tak inginkan kehadiranku. Memang aku hanya bayangan. Bayangan yang mampunya hembuskan kepedihan dihati siapapun yang aku temui. Aku memang tak berarti. Tetapi aku hanya ingin menjadi manusia yang berguna untuk orang lain. Cara ini mungkin salah. Aku memang salah. Aku selalu serba salah. Sampai suatu saat akan ada yang menghargai ketakberartian hidupku ini. Ini janjiku.