Monday, 25 August 2014

Shaddow

Keterlaluan memang. Aku membuatnya penasaran dan kesal. Tak ada maksud apapun dr semua tulisa-tulisan yang aku kirim padanya. Hanyalah ungkapan kata yang begitu saja keluar dari mulut ini. Aku mengerti, dan aku tak akan lagi mencari tahu semua tentangnya. Perkataannya terhadapku tak akan membuat aku sakit hati. Karena hatinya justru yang paling tersakiti. Maafkan aku yang hanya bisa bersembunyi dibalik bayanganmu. 
Ini yang aku kirim padanya di tanggal 22 Agustus 2014 pukul 07:055

Mentari
Cahayamu terangi semesta
Sinarmu hangatkan bekunya dunia
Caramu ramu segala
Tak ayal jauh dari logika

Mentari
Termasyhur di seluruh negeri
Memainkan peran yang penuh teka dan teki
Ilusimu membakar seluruh kecemasan di naluri
Hingga lenyap 
Dan tinggalkan abu yang tak berarti

Mentari 
Kilauan cahayamu butakan para penyanyjung mimpi
Tak seorangpun mampu tuk pandangi
Mimpi-mimpi maupun simponi
Tak ayal waktu yang terhentak ditepi ilusi
Hanya iringi sinarmu
Hendak menjauh kembali



Kesadaran dan penyesalan itu selalu datang terakhir dan terlambat. Aku tak pernah menyesal telah mengirimkan kata-kata tak berarti ini. Ini hanyalah sebuah tulisan, aku fikir ini tidak terlalu perlu dipermasalahkan. Disukai atau tidak hanya ini yang bisa aku lakukan untuk memberikannya semangat. 

Tanggal 25 Agustus, pukul 08:59

Tanda tak bertuan
Berbingkai imaji membenam di kegelapan
Lengkungan itu tak bisa berpaling dari pandangan
Meski sekilas, namun berikan kekuatan

Tak bisa berujar, berlari berkejaran
Yang terpatri hanya ilusi dibayangan

Cukup waktu yang ulangi segala
Hanya jingga....
Ilustrasi warna penuh makna


Kata-kata balasan darinya menyadarkan aku bahwa aku bersalah mengganggunya. Aku pastikan tak akan muncul lagi darinya. Meski suatu saat nanti waktu pertemukan kami. Aku akan menghindar darinya yang tak inginkan kehadiranku. Memang aku hanya bayangan. Bayangan yang mampunya hembuskan kepedihan dihati siapapun yang aku temui. Aku memang tak berarti. Tetapi aku hanya ingin menjadi manusia yang berguna untuk orang lain. Cara ini mungkin salah. Aku memang salah. Aku selalu serba salah. Sampai suatu saat akan ada yang menghargai ketakberartian hidupku ini. Ini janjiku.

Tuesday, 19 August 2014

Elegi

Ketika kau hendak bertanya padaku, "Siapa dirimu?". Aku hanya ingin kau tahu sedikit tentangku. Karena aku tak ingin peristiwa lama kembali terulang padamu. Aku hanya bisa menjawabnya :
Angin...
Angin yang mampunya hembuskan di bayangan.
Sekilas bermakna, tersirat di jingga.
Jiwa. 

Tak ada yang aku inginkan darimu. Tak ada yang aku harapkan darimu. yang aku mau hanya kau tahu betapa engkau begitu berharga dimataku. Kau mungkin tak akan pernah tahu. Karena aku tak ingin kau tahu. Tak ingin aku mengulang kesalahan yang kuperbuat lagi di masa lalu padanya. Pada Dia yang tak pernah melihatku. Dia yang hanya anggap kehadiranku angin yang mampu sejukkan sesaat dan menghilang seketika badai porak-porandakan segala angan yang ku bangun susah payah. Maafkan aku. Aku pengecut membiarkanmu tak mengetahuinya. Hanya bait-bait puisi yang mampu aku persembahkan untukmu yang ku kagumi. Ini untuk mu.

Jingga....
Siluet merona di padang fana
Mengambang membingkai ilustrasi penuh tawa

Jingga....
Lukiskan serpihan warna berirama
Merebak bersama alam yang bergema

Jingga....
Tak sembarang sajikan ronanya pada setiap kesempatan
Tak tentu waktu
Tak tentu hari
Kadang tak ada sama sekali
Seperti ilusi

Entah kapan engkau akan mengetahuinya. Bahwa itu aku yang diam-diam mengagumimu. Aku berdosa dan tak ingin semakin berdosa karena aku menyia-nyiakan waktu lagi hanya untuk menyanyjungmu. Hanya Tuhan yang tahu apa isi hatiku, kamu dan dia.