Aaaaaaa............lagi ada insfirasi nulis lagi nih.
Kali ini aku ingin bercerita tentang cita-cita. Setiap manusia pasti punya cita-cita dan keinginan yang ingin di capai dan diwujudkan menjadi kenyataan. Dulu kalau aku ditanya aku ingin menjadi apa, aku merasa tidak tahu apa ya cita-cita itu dan harus bagaimana cara mewujudkannya. Sampai sekarangpun sebenarnya aku tidak tahu apa sebenarnya itu cita-cita, karena aku selalu salah mengartikan antara cita-cita dengan apa yang aku inginkan. Akan tetapi aku akan terus berusaha mencari dan menjadikan keinginan itu menjadi kenyataan. Seperti kata pepatah "Kejarlah Cita-citamu hingga ke negeri Cina", "Tuntutlah ilmu hingga keliang lahat", "Ibadah tanpa ilmu itu seperti sayur tanpa garam dan sebaliknya ilmu tanpa ibadah itu kurang lengkap". Ungkapan-ungkapan itulah yang selalu menyemangatiku apabila kebosanan menyergap untuk berhenti dan lari dari semua angan dan cita-citaku.
Aku tak pernah berfikir akan hidup dan bekerja sampai sejauh ini, akan tetapi aku selalu yakin dn percaya bahwa Tuhan selalu membimbingku dalam setiap usaha dan do'a yang selalu ku panjatkan pada-Nya. Aku yakin juga pada salah satu surat dalam Al Qur'an yang mengatakan, "Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, apabila kaum itu ingin merubahnya sendiri", "Di setiap kesuliatan pasti datang kemudahan", "Apabila Allah berkehendak "Kun/Jadi" maka jadilah".
Saat ini aku telah memutuskan suatu keputusan yang mungkin kebanyakan orang akan menganggap aku bodoh dan gila. Akan tetapi aku sudah memikirkannya matang-matang dan orang tua merestuinya. Ya... aku ingin keluar dari perusahaan yang hampir tiga tahun ini menafkahiku dan memberi banyak ilmu maupun pelajaran berharga bagi kehidupanku, baik dari segi mental maupun tentang dunia perusahaan. Meskipun aku sering melakukan kesalahan maupun menghadapai berbagai macam kendala selama bekerja disana. Aku merasa sangat bahagia dan beruntung bisa bergabung di perusahaan yang telah berjasa pada banyak perubahan dalam hidupku. Lumayanlah jadi punya tabungan juga buat bisnis yang ingin aku rintis kalau aku jadi mengajar kelak.
Keinginanku saat ini adalah bisa merasakan mengajar dan berbisnis. Aku yakin kalau niat baik itu akan selalu dimudahkan oleh Tuhan. Sungguh-sungguh dan tak mudah menyerah itu kunci dari sebuah keberhasilan yang akan dicita-citakan.
Awalnya aku tak ingin menjadi seorang guru atau apapun yang berhubungan dengan dunia pendidikan dan anak-anak. Akan tetapi aku sadar aku adalah cucu sekaligus anak dari seorang guru yang hidup dari hasil jadi seorang guru. Cuma Ibu yang menjadi guru di keluarga kakek dari empat bersaudara. Sisanya tante dan paman tak ada yang berniat menjadi guru, karena dulu penghasilan menjadi guru sangat kecil dan hanya pas-pasan. Namun aku tak melihat itu dari kakek dan orang tuaku. Aku sangat kagum pada kakek dan ibu yang bisa bertahan di balik keterbatasan finansial mereka. Padahal usaha dan pengorbanan mereka tak sebanding dengan apa yang telah mereka lakukan untuk menjadi seorang guru. Aku sangat-sangat bangga bisa menjadi cucu dari seorang guru sekaligus kepala sekolah yang tak pernah mengeluh dengan semua hambatan dan rintangan yang dilalui selama menjadi seorang guru.
Sehari-harinya Almarhum kakek berangkat menuju sekolah tempatnya mengajar ditempuh dengan berjalan kaki hingga berkoli-kilo dan harus melintasi beberapa perkampungan, sawah, hutan, lembah hingga menyebrangi sungai besar menuju ke tempatnya mengabdi dan mengajar. Tanpa lelah dan mengeluh sedikitpun. Kalau hal itu kita yang mengalaminya, mungkin kita tak bisa membayangnya dan mau menjalaninya seperti almarhum kakek. Maka ketika aku menyetujui masuk ke fakultas keguruan di salah satu universitas swasta di Bandung, almarhum kakek sangat gembira dan mendukung. Ketika itu kakek sudah mulai sakit-sakitan karena faktor usia dan memang telah pensiun dari pekerjaannya sebagai guru dan kepala sekolah.
Aku bersyukur pernah merasakan kasih sayang kakek, perhatiannya, bimbingannya, dan nasihatnya yang higga detik ini selalu ku ingat. Terlebih sewaktu aku masih kanak-kanak kakek tak oernah absen mengajakku kepasar di awal bulan untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga bersama nenek selama 1 bulan. Aku akan menangis kencang sambil guling-guling kalau tahu kakek tak mengajakku bersamanya. Kalau diingat-ingat aku memang manja dan sekali pada semua orang di keluargaku. Mungkin efek dari kasih sayang yang berlebih dari mereka dan cucuk pertama dari keluarga ayah maupun ibu. Jadi apabila keinginanku tak terpenuhi senjata andalaku hanya merengek dan menangis tanpa henti hingga terpenuhi keinginanku itu. Kadang aku tertawa sendiri melihat kenakalanku pada mereka, terlebih pada kakek dan kedua orang tuaku.
Makanan dan minuman yang wajib aku beli ketika ikut dengan kakek ke pasar adalah kue kering kuping gajah atau kacang sukro kiloan dan minuman limun atau sirup dalam kemasan botol berbentuk binatang seperti gajah, kucing, manusia koboi, dan lain-lain yang berbentuk unik dan populer kala itu di pasaran. Entah rasanya itu strowberry, jeruk ataukah melon. Aku tak perduli yang penting bentuk kemasannya unik dan aku suka. Ya... atau kadang kakek memelikanku yakult. Minuman itu masih bertahan dan dijual dipasaran. Hingga sekarangpun aku sangat suka dengan yakult. "Saya minum 2" itu selogan yang hingga kini masih dipertahankan oleh perusahaan yang memproduksinya. Kadang juga aku hanya dibelikan kuping gajah atau kacang sukro sekantong pelastik penuh. Aku sangat gembira dan menunjukkannya pada semua anggota keluargaku termasuk bobi dan pamanku yang jahil. Karena aku tak pernah mau berbagi dengan mereka meski aku di belikan banyak kuping gajah atau kacang sukro dan yakult. Ini milikku dan hanya aku yang boleh memakannya, pemikiran anak kecil polos yang bangga dengan pemberian kakek yang tak diberikannya pada paman dan bibi anaknya sendiri.
Kadang mereka iri dengan kasih sayang kakek yang berlebihan padaku. Tapi mereka mengerti karena aku masih kecil sekitar 4 tahun kala itu dan mereka sekitar 15 dan 18 tahun. Pernah suatu ketika saking jahilnya dan gemas padaku yang waktu itu baru ada aku sebagai cucu pertama di keluarga ayah maupun ibu. Aku dikerjain habis-habisan oleh paman dan kedua bibiku dari ibu. Aku didandani alias di "
Curang coreng" mukanya menggunakan lipstik bekas bibi adik pertama ibu yang sudah lebih dewasa sekitar 20 tahunan. Awalnya aku mau-mau saja di dandani karena aku di iming-imingi hadiah dan makanan kalau mau didandani. Mereka mendandaniku sambil tertawa-tawa, karena berhasil membuat muka keponakannya yang poloh dan cubby itu menjadi seperti badut ancol yang sangat lucu. Tapi tidak bagiku kala itu yang mengira hasilnya akan cantik seperti boneka atau tokoh putri di film kartun hitam putih yang tak berwarna. Mereka semakin asyik menertawakan kepolosan mukaku yang berhasil mereka permainkan dengan sebatang lipstik bekas sebagai tontonan yang mengasyikan. Sangat-sangat mengasyikan mungkin, seperti menonton film spongebob dijaman sekarang mah.
Setelah mereka puas menertawakanku, aku penasaran ingin melihat bagaimana hasil karya paman dan bibiku yang berhasil menghipnotis mereka seperti orang gila dan puas menertawakan kejahilan mereka. Saat cermin dihadapkan diwajahku, sontak aku menjerit kaget karena melihat wajah kecilku mengerikan seperti monster dan orang gila dengan rambut yang dikuncir banyak. Aku menangis sejadi-jadinya karena kaget melihat wajah mengerikanku. Kala itu nenek memarahi paman dan bibik yang tak berhenti dan malah menjadi menertawakaku. Aku langsung dibawa nenek ke kamarmandi, di bawah pancuran bak mukaku dibersihkan menggunakan kain dan sabun mandi. Aku masih menangis dan kedinginan. Aku tak mengira paman dan bibi akan sejahil itu padaku. Tetapi aku tahu itu hanya lelucon yang mereka perbuat padaku karena kasih sayang mereka.
Jika mengingat kejadia itu kadang aku berfikir kenapa aku begitu polos mau di jahili oleh mereka dengan iming-iming makanan dan hadiah. Hahahahahahahahaha.....
Padahal setelahnya aku tak mau berhenti menangis, meski sudah hilang semua noda diwajahku. dan aku ingat setelah itu aku diajak ibu kerumah sepupunya untuk menghadiri acara tetangganya. Aku sempat tertidur di rumah sepupu ibu yang biasa di panggil "Uwa mimi". Kemudian bangun tidur aku malah difoto di atas tempat tidur dikamar Uwa mimi sambil cemberut. Fotonya masih ada hingga sekarang dan Bukti kejahilan paman dan bibi-bibiku itu masih tersisa disudut mata kananku kalau tidak salah.
Dibawah inilah fotoku itu :
*************************************<@>****************************************
Kakek hanya bertahan hingga aku kuliah semester 1, tepatnya ketika UTS/Ujian tengah semester pertamaku sebagai mahasiswa. Di hari terakhir ujianku aku dikabari bahwa kakek telah tiada. Aku syok dan lemas mendengarnya, seketika itu juga aku kabur dari ujian dan pulang ke kampung halaman, berharap masih bisa melihat kakek untuk yang terakhir kalinya. Dan aku salah, setiba aku di kampung aku tak mendapati tubuh ringkih kakek yang terakhir kali aku lihat sebelum ke bandung masih berbaring lemah di tempat tidur dengan selang oksigen yang setia menemaninya. Aku tak tega dan tak berani lagi menangis didepan kakek, meski dulu aku cucu yang paling cengeng di antara semua cucu-cucunya. Aku ingin bersikap tegar dihadapan kakek, kalau aku sudah dewasa dan bukan cucu kecilnya yang cengeng dan merengek minta dibelikan minuman kemasan unik seperti dulu. Aku Bersyukur meski aku tak bisa melihat wajahnya untuk yang terakhir kali, aku masih bisa melihatnya tersenyum dan berkata "
Do'akeun abahnya sing enggal damang, jeung ujian pit sing lancar, sing sukses". Itu kata-kata kakek terakhir kakek sambil terbata-bata yang aku dengar sebelum beliau berpulang. Kakek........Aku berjanji akan meneruskan perjuanganmua dan ibu menjadi seorang anak,cucu, ibu, dan guru yang baik dan penyabar sepertimu. Aku bangga padamu,,,,aku sayang sekali padamu, Engkau kakek yang paling aku banggakan. semoga Allah memberimu tempat yang layak disisi-Nya, dan ilmu yang telah engkau dermakan kepada semua murid-murid, anak-anak dan cucumu menjadi ilmu yang bermanfaat dan memberimu safaat di akhirat kelak. Amiiin ya rabbal alamin.
Kakek adalah idola pertama yang aku kagumi, sebelum artis-artis atau tokoh kartun yang banyak orang-oarang kagumi dan puja-puja di jaman sekarang ini. Kakek adalah kakek, teman, dan guru pertama yang mengajarkanku untuk mencintai buku dan ilmu. Dibalik sikapnya yang pendiam, tegas, hobi nonton berita, olah raga tinju dan sejarah. Kadang sampai tertidur atau "Nundutan" di depan Tv. Aku suka meminta kakek untuk pindah kekamar, tetapi kakek tidak mau pindah dan kembali nonton dan kembali tidur lagi. Kami sering berebut nonton Tv dan tempat duduk kala itu. Aku paling takut kalau kakek marah dibandingkan ayah atau ibu yang marah kalau aku nakal dan kambuh sifat ngeselinnya.
Masa kecilku banyak dihabiskan bermain dan belajar di rumah kakek dari ibu, karena kesibukan kedua orang tuaku yang bekerja. Makanya aku lebih dekat dan nurut ke kakek dan nenek ketimbang pada kedua orang tuaku.
Kakek...Nenek...kalian semua keluargaku, aku sayang pada kalian. Meski aku tipikel orang yang tak mudah mengekspresikan kasih sayangku. Terima kasih untuk semuanya.
Ich liebe dich meine Familie :) :* :')