Thursday, 31 July 2014

Apa arti "Aku" dalam hidup.

             Sepertinya sudah lama sekali aku tak membuat catatan. Kali ini aku ingin membahas mengenai apa arti "Aku" di hidupmu. Sebelum kita mulai menelaah satu persatu, saya ingin bertanya pada kalian beberapa pertanyaan yang mungkin sempat muncul dikepala kalian. Dan semua pertanyaan itu tak pernah terjawab dengan jelas, tetapi hanya mengalir saja dan tak ada ujung pangkalnya.
             Pertanyaan pertama, apakah kalian pernah bertanya pada diri kalian kalau kalian itu siapa?. Kedua, Kalian itu hidup untuk apa dan apa alasan kalian untuk hidup?. Ketiga, mengapa kalian mendapat ujin, cobaan, karunia, dan bahkan cemoohan?. Keempat, kenapa Tuhan menciptakan kalian jika hanya akhirnya akan kembali pada-Nya juga?. Kelima, kenapa hanya kalian yang merasakan bahwa ketika kita tidur, ketika tak dengan orang lain merasa kalian itu sendiri dan kenapa?. Keenam, berfikir tentang kematian yang kelak akan menghampiri, kemudian kalian tak bisa lagi melihat dunia, perkembangannya bahkan bersama orang yang kalian kasihi?. Mungkin sudah cukup dulu pertanyaan-pertanyan dari saya. Sekarang saya kembalikan pada kalian, apakah kalianpun pernah memiliki pertanyaan yang sama dengan saya???.
            Sepertinya akan sangat lama apabila saya harus menunggu jawaban dari kalian terlebih dahulu. Maka dari itu saya akan menjawab semampu saya pertanyaan-pertanyaan tadi. 
       Pertama, Apakah kalian pernah bertanya pada diri sendiri siapa kalian sebenarnya?. Sebenarnya pertanyaan itu pertanyaan yang tidak pernah saya temukan selama saya hidup. 


Wednesday, 30 July 2014

Hanya

Pilihan. Tak pernah ada pilihan untukku dalam beberapa tahun ini. Apa yang harus aku pilih dan lakukan itu semua mengalir saja dengan sendirinya tak pernah aku perhitungkan sama sekali. Kalau bisa memilih hidup seperti yang ditanyakan seorang teman, "hidup mana yang akan kamu pilih apabila kamu terlahir kembali. Hidup yang sekarang ataukah yang lain?". Kalau aku ditakdirkan terlahir kembali, maka aku akan memilih menjadi manusia baru yang menghadapi hidup dengan cara pandang berbeda dengan apa yang pernah aku lalui saat ini. Aku ingin kehidupanku dipenuhi dengan tawa dan keceriaan, tidak seperti sekarang penuh dengan kehampaan. Aku ingin bisa membuka mata bahwa aku tak harus setia pada sesuatu yang belum tentu akan bersamaku. Tetapi kesetiaanku itu cukup aku simpan di hati untuk seseorang yang pantas dan tepat.

Dibalik semua itu aku tak pernah menyesali hidup ini. Karena aku yakin Tuhan lebih tahu apa yang tidak aku ketahui dengan hidupku. Saat ini yang bisa aku lakukan hanya menjadi manusia yang lebih baik lagi setiap harinya. "Tuhan itu memberikan apa yang kita butuhkan dan bukan apa yang kita inginkan", hanya kata-kata itu obat mujarab kala hampa menyerangku.

Bagi sebagian orang cinta itu adalah hidup. Hidup tanpa cinta bagai hidup tanpa nyawa. Raga tanpa nyawa bagai jalan tanpa arah. Bagaimana menurut kalian???????

Aku yakin tak ada yang membaca blog saya ini. Jadi jangan harap saya bisa tahu pendapat kalian. Tak mengapa, karena blog ini hanya sebatas media saya untuk menyalurkan hobi saya menulis dan bercerita. Saya mungkin bukan penulis yang baik, jadi tak apa saya salah menulis atau tidak. Toh tidak ada yang merasa dirugikan atau diuntungkan.







Thursday, 10 July 2014

Matirasa

Entah apa yang ada difikiran ini. Entah apa yang aku rasakan saat ini. Entah apa yang ingin aku gapai, seakan aku tak memiliki lagi cita-cita. Aku seperti tak lagi mengenali diriku sendiri. Tak tau apa tujuan yang ingin dicapai dan ingin diraih. Apa ini matirasa??
Aku tak mengerti akan diriku, sehingga apa yang aku jalani seperti tidak bermakna sedikitpun. Aku sendiri selalu bertanya-tanya mengapa aku seperti ini dan mengapa aku bersikap seperti ini. Meski begitu masih ada sedikit celah yang mampu menembus dinding hatiku.
Dia...Dia yang tiba-tiba hadir dihidupku. Sebenarnya aku tak ingin terhanyut lagi dalam angan-angan yang kelak akan menghancurkan diriku sendiri. Apalah daya aku yang hanya manusia biasa, apalagi mengenai sebuah anugerah yang Allah titipkan pada relung hatiku. Meski tak menginginkannya Allah akan tetap memberikannya. Meski begitu menginginkan Allah belum tentu memberikannya. Aku memang harus terus berfikir realistis, karena kehidupan itu bukan sebuah dongeng yang semuanya pasti berujung kebahagiaan didunia. Yang terpenting saat ini aku harus fokus menggapai mimpi dan cita-citaku yang semakin tertunda karena kemalasanku akhir-akhir ini. Aku memang kalah sebelum  berperang, tetapi aku sadar aku tak bisa meraihnya dengan mudah. Tarutama akuhanya perempuan biasa yang tak punya kemampuan dan bakat lebih sesuai dengan kriterian Dia yang mungkin sangat sempurna. Aku mungkin punya cinta dan kesetiaan yang lebih besar dibandingkan perempuan-perumpuan idamannya. Hanya itu yang aku miliki dan hanya itu yang bisa aku tawarkan padanya yang belum tentu mau menerimaku dengan segala keterbatasanku. 
Alasan lain mengapa aku tidak yakin karena lagi-lagi laki-laki itu tak mengenalku dengan baik, bahkan kami tak pernah saling bertemu. Aku tak ingin lagi merasakan seperti pungguk merindukan bulan. Aku tak ingin kepahitan yang ku buat sendiri akan aku alami lagi untuk yang kedua kalinya. Maka aku putuskann untuk tak mengenalnya lebih jauh lagi dan aku lebih memilih mundur sebelum mengenalnya. Aku juga sangat berterima kasih sekali padanya, berkat Dia aku bisa melupakan kepahitan yang selama hampir 6 tahun ini aku rasakan.  Kehadiranya seperti pelita dalam kegelapan, seperti obat penawar bagi lukaku yang tak kunjung mengering. Berkat Dia juga kini aku bisa lebih menghargai waktu dan kesempatan yang aku miliki. Terima kasih aku ucapkan. Meski ucapan itu tak sebanding dengan perubahan yang Dia timbulkan padaku saat ini. Kalaulah aku punya sesuatu yang biasa aku bagi untuknya sebagai rasa terima kasihku, maka akan aku bagi dengannya. 
Dia mungkin tak akan pernah tahu aku dan tak akan pernah tahu apa yang aku rasakan dari perubahan ini. Melalui Dia Allah telah meberikan penawar dari lukaku.Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat untuknya, dan mengijinkan aku bertemu dengannya.