Terhenyak mimpi di ujung jalan keterpurukan
Merapi merah muntahkan seluruh tangis dalam kelam
Gertakan alam terpaku disunyinya malam
Memberondong segala sesal yang tak berkesudahan
Ingkari mimpi yang kian detik kian menghantui
Hari-hari sunyi semakin payungi naluri
Bergetar dalam puncak ego semesta hati
Sembunyi di semak-semak keangkuhan imaji
Tiada langit yang sudi tuk sanjungi
Berbagi harap semu walau setitik api
Semakin gelapkan langkah yang berarakan
Tiada arah,,,hanya jumpai keterasingan
Disana...
Dilangit yang sama menaungi mimpi
Berapi-api dan malu-malu tuk akui
Hasrat berkecamuk di setiap pijakan yang dititi
Ingkari, jenuhkan raga yang membumbung tinggi
Keterikatan mawar dan mentari
Hinggapi ranting-ranting rapuh tak terselami
Jingganya siluet takarkan semua yang diuji
Mimpi, Imaji, Hati, Getirkan halusinasi
Die Suche Nach Der Wahren Liebe Verloren Geht ... Da Schicksal Führt Sie Zu Mir Führen
Saturday, 12 April 2014
Thursday, 10 April 2014
Bungkam
Bercermin aku dalam gelak tawa semu
Berbingkai dinding nan kelabu
Tertinggal sendu disudut lazuardi yang membiru
Berdebu hati berucap kelu
Benderang kabur yang membalut kalbu
Terpikat mimpi dalam sembilu
Acuh tak acuhkan masa lalu
Bertabur kejora menghunus harap palsu
Akan indah pada paras yang merindu
Syahdu dalam irama pilu
Pecahan itu tercabik dan mendebu
Terhempas angin kesegaran fatamorgana
Seketika merekah dan melayu
Sendu tak bergeming dalam dekapan tawa
Mimpi nyata isyaratkan pertanda
Halusinasi cinta menari-nari dan meronta
Berkelit di ruang sunyi kian merdukan telinga
Berkecamuk naluri dalam seribu langkah
Berdalih dan ingkarkan naluri yang bersilat lidah
Berserah dikegamangan khayal penuh petuah
Tersamar mimpi dalam tabir mentari
Elokan paras menjulang nan hakiki
Gemuruh badai lukiskan halus pekerti
Diiringi nyanyin pujangga penuh misteri
Wahai.....penyanjung ilusi
Mimpikah hidup dalam bayang imajinasi
Titisan dewa-dewi bernyanyi
Utarakan nalar yang merajai
Wahai.....sang penyanjung materi
Terkaparkah engkau penuh sanjung puji
Wakili alam yang bersenandung simponi
Terbungkus sutra dipinggir pantai suci
Mimpi......
Ilusi....
Khayal....
Getarkan urat-urat nadi
Bersenandung bersama para bidadari
Tersayat-sayat sembilu yang tak terobati
Tinggalkan lusuhnya kepingan-kepingan hati
Akhir mimpi...
Berbingkai dinding nan kelabu
Tertinggal sendu disudut lazuardi yang membiru
Berdebu hati berucap kelu
Benderang kabur yang membalut kalbu
Terpikat mimpi dalam sembilu
Acuh tak acuhkan masa lalu
Bertabur kejora menghunus harap palsu
Akan indah pada paras yang merindu
Syahdu dalam irama pilu
Pecahan itu tercabik dan mendebu
Terhempas angin kesegaran fatamorgana
Seketika merekah dan melayu
Sendu tak bergeming dalam dekapan tawa
Mimpi nyata isyaratkan pertanda
Halusinasi cinta menari-nari dan meronta
Berkelit di ruang sunyi kian merdukan telinga
Berkecamuk naluri dalam seribu langkah
Berdalih dan ingkarkan naluri yang bersilat lidah
Berserah dikegamangan khayal penuh petuah
Tersamar mimpi dalam tabir mentari
Elokan paras menjulang nan hakiki
Gemuruh badai lukiskan halus pekerti
Diiringi nyanyin pujangga penuh misteri
Wahai.....penyanjung ilusi
Mimpikah hidup dalam bayang imajinasi
Titisan dewa-dewi bernyanyi
Utarakan nalar yang merajai
Wahai.....sang penyanjung materi
Terkaparkah engkau penuh sanjung puji
Wakili alam yang bersenandung simponi
Terbungkus sutra dipinggir pantai suci
Mimpi......
Ilusi....
Khayal....
Getarkan urat-urat nadi
Bersenandung bersama para bidadari
Tersayat-sayat sembilu yang tak terobati
Tinggalkan lusuhnya kepingan-kepingan hati
Akhir mimpi...
Tuesday, 8 April 2014
Gemericik
Cinta
dan persahabatan itu realita. Ada duka ada tawa. Cinta itu gila, kadang
mengoyak dada dan tinggalkan nestapa dihati setiap pencinta. Persahabatan itu
pertemanan yang kadang tersamar dalam cinta. Persahabatan itu tercipta dalam
harmonisasi hidup dan jiwa.
Aku
tak pernah mengerti apa sebernarnya cinta dan apa sebenarnya persahabatan.
Sebatas yang aku tahu cinta itu sebuah perasaan kasih, sayang, kesetiaan,
ketulusan, benci, duka, ingin selalu bersama, ingin memiliki, ingin dimengerti,
saling membutuhkan, seia-sekata dan tak terpisahkan meski ruang dan waktu yang
memisahkan.
Persahabatan
itu kekraban, kedekatan emosional, visi, misi, pemikiran, berbagi, toleransi,
kebersamaan, kekeluargaan, dan kesetiakawanan.
Embun
gadis manis berkulit langsat, bermata coklat pekat, rambutnya ikal ke merahan
sedang asik termenung dibawah jendela besar dikamarnya. Titik-titik hujan luruh
dibalik jendela kamarnya, seakan langit dan bumi mampu membaca isi hatinya.
Perasaan apakah itu, entahlah. Embun si gadis penyendiri yang tak pernah
terbuka terhadap siapapun, termasuk kedua orang tuanya. Padahal bila dilihat
kedua orang tuanya tergolong cakap dilingkungannya. Ayahnya seorang pegawai
pemerintahan sekaligus petani didesanya. Namun semua itu tak menjadikan ayahnya
tamak dan sombong. Bahkan ayahnya sendiri merawat sawah, ladang, binatang
ternak dari memandikannya sampai menccari rumput untuk pakannya. Ibu Embun hanya
perempuan desa biasa yang bekerja sebagai tenaga pengajar di kampung sebelah,
meneruskan perjuangan kakeknya yang telah wafat.
Embun
yang penyendiri tak mewarisi sifat kedua orang tuanya, tetapi embun mewarisi
sifat sang kakek yang pendiam dan tak banyak bicara. Embunpun mewarisi sifat
yang tak dimiliki ibunya yang jelas-jelas anak sang kakek. Pendiam, tak banyak
bicara, suka bekerja dan pandai menyembunyikan penderitaannya sendiri. Saking
pandainya orang tuanya tak pernah tahu apa yang sedang dirasakannya saat ini.
Hampir
empat tahun Embun terjerat duka dan lara yang tak berkesudahan, hingga ia tak
mampu lagi bertahan dan memutuskan untuk mengakhiri semua itu di akhir desember
tahun lalu. Embun tahu apa yang dia lakukan, meskipun semua itu tak pernah
berakhir bahagia untuk kehidupannya.
Gunturlah
yang hampir empat tahun ini mengisi relung hatinya. Sejak lama Guntur telah
mengetahui isi hati Embun yang tak pernah berubah meski Guntur tak pernah
membalas apa yang telah diberikan Embun. Meskipun tahu apa yang Embun rasakan
padanya, Guntur tetap berpura-pura baik dan hanya menganggap Embun seperti sahabat
& adiknya.
“Embun…..”
“Embun maafkan aku sebelumnya. Aku
tersanjung dengan apa yang telah kau lakukan dan berikan padaku. Tapi harus aku
akui, aku memang bersalah tidak berusaha lebih keras untuk menerimamu
dikehidupanku. Jujur aku merasa bersalah terhadapmu. Tapi inilah kenyataan yang
harus kau ketahui tentang perasaanku terhadapmu”.
Balas Guntur dalam SMS nya.
Hening….tak
ada jawaban, mukanya memucat dan pipinya telah basah.
“Embun. Maafkan aku. Aku hanya bisa menganggapmu
sahabat dan seperti adik bagiku. Sekali lagi maafkan aku”. Itulah sms
terakhir yang dikirim oleh Guntur.
Embun
sudah menduga-duga sejak lama, bahwa kejadian ini pasti akan datang juga dengan
sendirinya. Keegoisanlah yang membuatnya lupa, kalau cinta itu tidak dapat
dipaksakan. Bukan hanya itu saja, ada perbedaan jarak dan waktu yang memisahkan
mereka. Sehinga selama empat tahun itu Guntur tak pernah bisa menerimanya.
Karena menurutnya berhubungan jarak jauh atau LDR (Long Distance Relationship)
itu sesuatu yang sangat mustahil dilakukan, terutama dijaman sekarang ini yang
berlandas pada saling percaya dan saling pengertian. Karena dalam suatu
hubungan perlu adanya kebersamaan apakah saling bertemu, jalan-jalan, makan
malam bersama ataukah sekedar nonton dibioskop seperti orang lain pada umumnya.
Dan itu tidak bisa mereka lakukan selama
ini.
Kejadian
itu telah membangunkan ia dari mimpi-mimpi yang telah ia pertahankan selama ini.
Yaitu sebuah pengakuan bahwa ia itu diinginkan, dinantikan dan dikasihi oleh
seseorang yang juga ia kasihi sepenuh hati. Semuanya telah terlambat, tak
mungkin waktu diputar kembali. Hidupnya harus terus berlanjut, masih banyak
mimpi yang belum ia capai. Ia berjanji tak ingin mengulangi kesalahannya lagi
dan kembali terjerat dalam cinta yang semu. Masalalu adalah kenangan. Kenangan adalah
ingatan atau memori atau suatu kejadian atau peristiwa yang terekam diotak
kita. Apakah peristiwa buruk, menyakitkan, menyenangkan, ataupun sesuatu yang bersifat
traumatis. Semua kejadian itu akhirnya hanya akan dikenang dan jadi sebuah
cerita masa tua untuk anak cucu kelak.
Embun
tersadar bahwa sedaritadi ia terlalu hanyut dalam alunan hujan yang makin deras
dibalik jendela kamarnya. Segurat senyum tersungging dibibir manisnya. Kini ia
telah bahagia bersama seseorang yang sangat ia cintai dan mencintainya, Angin.
Seseorang yang telah menjadi suaminya dan telah memberikannya sepasang anak
kembar (Laki-laki & Perempuan) yang lucu seperti impiannya selama ini. Dan
mereka hidup bahagia di belanda hingga kakek dan nenek.
The
End
Gundah
Sebuah
cerita sebuah derita
Elegi
cinta terbingkai dihati yang mencinta
Berderu
dalam duka dan nestapa.
Bernyanyi
di bibir rindu yang menggema
Cinta
hampa bertepuk derita
Cinta
nyata berbingkai egosentris sang pujangga
Berabad
cinta tak terbuka
Tersamar
dalam sanjung dan puja-puja
Kemilau
embun dimata pagi
Tersungging
damai dikegelapan
Kencana
biru telah lama menanti
Tak
juga kembali dari keterasingan
Berpijak
dibawah lazuardi yang melaju
Tak
berarah berkalang rindu
Kata
aku, kamu di urat nadi
Tak
berarti terucap hanya sekali
Ruang
dan waktu tak menyatu
Dibibir
malam yang kian tersulam
Gelap…
Gelap
dan pekatkan fatamorgana
Samar…mengaburkan
wajah derita
Seperti
mimpi berselimut cinta
Membasuh
raga dalam khayal yang nyata.
Monday, 7 April 2014
Gundah
Sebuah
cerita sebuah derita
Elegi
cinta terbingkai dihati yang mencinta
Berderu
dalam duka dan nestapa.
Bernyanyi
di bibir rindu yang menggema
Cinta
hampa bertepuk derita
Cinta
nyata berbingkai egosentris sang pujangga
Berabad
cinta tak terbuka
Tersamar
dalam sanjung dan puja-puja
Kemilau
embun dimata pagi
Tersungging
damai dikegelapan
Kencana
biru telah lama menanti
Tak
juga kembali dari keterasingan
Berpijak
dibawah lazuardi yang melaju
Tak
berarah berkalang rindu
Kata
aku, kamu di urat nadi
Tak
berarti terucap hanya sekali
Ruang
dan waktu tak menyatu
Dibibir
malam yang kian tersulam
Gelap…
Gelap
dan pekatkan fatamorgana
Samar…mengaburkan
wajah derita
Seperti
mimpi berselimut cinta
Membasuh
raga dalam khayal yang nyata.
Friday, 4 April 2014
Tulang Rusuk Siapakah Aku?
Sesak didada ini tak ada yang mampu sembuhkan. Ingin aku terbang bebas kesana-kemari dan menari-nari dari ranting ke ranting, dari dahan kedahan yang lainnya seperti burung. Namun semua tak mampu ku lakukan. Kadang aku menyalahkan diri ini ketika tak jua datang mentari yang hendak sinari gelapnya hati ini. Kadang aku bersedih tiada henti hanya karena menyalahkan diri karna tak bisa seperti orang lain yang bisa dengan mudah beroleh pasangan sejati. Aku menyerah dalam pertempuran yang belum kumulai. Rasa sakit dan ketakutan itu masih saja membayangiku ketika ku ingin memulainya kembali. Lagi-lagi aku gagal dan gagal meraih cinta nan hakiki.
Sebenarnya cinta itu apa?. Sebenarnya sayang itu apa?, Apakah hanya aku yang begini. Apa ada yang salah dengan diriku hingga detik inipun aku masih sendiri. Apakah ada yang menginginkan kehadiranku. Apakah hanya aku yang merasakan semua pertanyaan yang bertubi-tubi ini. Aku bingung dan tak ingin tersesat dalam arah yang salah seperti masa lalu. Aku tak ingin mencinta dan mengharap pada yang tidak tepat. Aku lelah menanti, aku tak kuat lagi menantinya. Sampai kapan aku harus menanti dicari yang mencariku. Apakah aku ini bagian dari tulang rusuk seseorang yang kelah akan membimbingku. Ataukah aku hanya seoonggok daging tak berguna.
Aku ingin bahagia. Aku ingin menjadi istri. Aku ingin menjadi ibu yang mampu melahirkan dan mendidik keturunanku kelak. Aku ingin menjadi panutan, yang nasihatnya akan didengar. Aku ingn menjadi hamba yang taat, kepada Sang Khaliq dan imamku. Tapi apakah didunia ini aku akan bertemu dengannya. Kapankah waktu itu hadir menyapaku dalam sepi ini. Lelah aku berceloteh mencarinya. Apakah aku ini dicarinya. Ataukah tak pernah sama sekali aku dicarinya.
Serumit inikah aku. Senista itukah aku, hingga aku ini bukan tulang rusuk siapapun. Aku ini tulang rusuk siapa. Segala daya aku mencarinya, tapi tak pernah ku temukan. Dalam do'a ku " Tuhan aku ini pantaskah jadi sebuah tulang rusuk, yang kelak akan berbakti pada-Mu bersamanya. Tuhan pantaskah aku ini untuk tubuhnya yang kelak akan membimbingku dalam setiap langkahnya untuk menuju-Mu. Tuhan jangan biarkan aku menunggu terlalu lama dalam ketakbergunaanku. Aku berserah hanya pada-Mu".
Waktu....Hanya waktu dan kehendak-Nya kami dipertemukan. Segalanya hanya pada-Nya ku kembalikan, dalam pasrah, do'a dan ihtiar.
Sebenarnya cinta itu apa?. Sebenarnya sayang itu apa?, Apakah hanya aku yang begini. Apa ada yang salah dengan diriku hingga detik inipun aku masih sendiri. Apakah ada yang menginginkan kehadiranku. Apakah hanya aku yang merasakan semua pertanyaan yang bertubi-tubi ini. Aku bingung dan tak ingin tersesat dalam arah yang salah seperti masa lalu. Aku tak ingin mencinta dan mengharap pada yang tidak tepat. Aku lelah menanti, aku tak kuat lagi menantinya. Sampai kapan aku harus menanti dicari yang mencariku. Apakah aku ini bagian dari tulang rusuk seseorang yang kelah akan membimbingku. Ataukah aku hanya seoonggok daging tak berguna.
Aku ingin bahagia. Aku ingin menjadi istri. Aku ingin menjadi ibu yang mampu melahirkan dan mendidik keturunanku kelak. Aku ingin menjadi panutan, yang nasihatnya akan didengar. Aku ingn menjadi hamba yang taat, kepada Sang Khaliq dan imamku. Tapi apakah didunia ini aku akan bertemu dengannya. Kapankah waktu itu hadir menyapaku dalam sepi ini. Lelah aku berceloteh mencarinya. Apakah aku ini dicarinya. Ataukah tak pernah sama sekali aku dicarinya.
Serumit inikah aku. Senista itukah aku, hingga aku ini bukan tulang rusuk siapapun. Aku ini tulang rusuk siapa. Segala daya aku mencarinya, tapi tak pernah ku temukan. Dalam do'a ku " Tuhan aku ini pantaskah jadi sebuah tulang rusuk, yang kelak akan berbakti pada-Mu bersamanya. Tuhan pantaskah aku ini untuk tubuhnya yang kelak akan membimbingku dalam setiap langkahnya untuk menuju-Mu. Tuhan jangan biarkan aku menunggu terlalu lama dalam ketakbergunaanku. Aku berserah hanya pada-Mu".
Waktu....Hanya waktu dan kehendak-Nya kami dipertemukan. Segalanya hanya pada-Nya ku kembalikan, dalam pasrah, do'a dan ihtiar.
Semu
Ku tertatih diujung senja
Dengan ringkih menyeret mimpi lalu yang menggantung
Selepas asa terkungkung dipundak derita
Kesana-kemari mencari jejak yang terbang
Samar membisukan asa didada
Sunyi hiasi bingkai imaji
Titik itu warnai pekatnya lazuardi
Sesaat namun berarti melekat
Apakah ini selamanya kan menyayat nurani???
Apakah ini badai abadi yang kan dilalui???
Mimpi...Bertabur luka dalam langkah tak pasti
Gerhana hendak kembali torehkan kenangan
Alam gaib menggema gambarkan segala nestapa
Diketerasingan mampukan berjelaga dalam sunyi?
Ingin berbagi oasis yang menyejukkan.
Ingin tenggelam dalam khayal yg alam ciptakan
Bersama itu akupun meragu
Sudikah langit bersua dalam keterasingan ini
Sudikah nestapa didalamnya tuk dibagi
Denganku...
Bersama mu...
Dalam keterasingan imaji yang tak pasti
Berpendar di telan waktu
Menjerit dalam tawa biru langit sendu
Kembali...
Takkan kembali ku pertanyakan
Sebelum ku tanya pada langit, mentari dan hujan
Sudah ku tahui itu tak pasti.
Mimpi...
Wednesday, 2 April 2014
Entah
Entahlah apa yang ingin aku tulis hari ini aku tak tahu apa yang aku rasakan. Kejadian itu masih saja menghantui hari-hariku. Perasaan itu telah aku pupuk sejak lama, seperti tanaman apabila diberi pupuk terlalu banyak atau terlalu sering disirami belum tentu akan tumbuh dengan sempurna. tetapi malah layu sebelum berkembang. Sama halnya dengan perasaan ini yang terus tumbuh disini, meskipun dirinya tak pernah berkembang sedikitpun. Bahkan layu dan membusuk sebelum berkembang. Manusia mana yang rela dihianati dan tak pernah dianggap, aku pun sama seperti kebanyakan manusia yang lainnya. Karena aku hanya manusia biasa yang hanya mampu berbuat dan berusaha sekemampuan ku, selebihnya hanya Tuhan yang menentukan.
Kesetiaan
Kesetiaan itu tidak ada apabila kita sebagai manusia tidak dianugerahi rasa kasih sayang atau cinta. Tetapi apakah kita pernah meminta pada Tuhan kalau kita ingin dianugerahi sebuah cinta itu. Aku tak pernah meminta, tetapi Tuhan selalu memberi melebihi yang aku minta. Bahkan memberi cinta yang berlebih, sehingga aku harus setia pada cinta yang tak akan pernah aku miliki.
Butuh waktu lama untuk aku berfikir tentang apa yang telah Tuhan berikan padaku, apakah rasa cinta itu ataukah sayang itu pada seseorang yang sebenarnya tidak tepat untuk aku cintai dan sayangi. Cinta itu memang membuat ku buta, telah menyia-nyiakan waktu hanya untuk menanti seseorang tak pernah mencintai ku.
Aku hanya bisa realistis saja, karena cinta tak bisa dipaksakan. Seperti beberapa lelaki yang pernah mendekatiku, yang karena aku tak bisa menerima mereka karena beberapa alasan. Akupun tak bisa menerima perasaan mereka, seperti dia tak bisa menerima aku dan perasaan ku. Tetapi aku yakin nun jauh disana seseorang sedang menantiku, memikirkan kapan Tuhan akan mempertemukan kami. Aku yakin dan percaya suatu saat nanti pasti akan indah pada waktunya. Meski didunia kami tak dipertemukan, tapi di akhirat kelak kami akan dipertemukannya di surga-Nya.
Gest....^^,
Kesetiaan
Kesetiaan itu tidak ada apabila kita sebagai manusia tidak dianugerahi rasa kasih sayang atau cinta. Tetapi apakah kita pernah meminta pada Tuhan kalau kita ingin dianugerahi sebuah cinta itu. Aku tak pernah meminta, tetapi Tuhan selalu memberi melebihi yang aku minta. Bahkan memberi cinta yang berlebih, sehingga aku harus setia pada cinta yang tak akan pernah aku miliki.
Butuh waktu lama untuk aku berfikir tentang apa yang telah Tuhan berikan padaku, apakah rasa cinta itu ataukah sayang itu pada seseorang yang sebenarnya tidak tepat untuk aku cintai dan sayangi. Cinta itu memang membuat ku buta, telah menyia-nyiakan waktu hanya untuk menanti seseorang tak pernah mencintai ku.
Aku hanya bisa realistis saja, karena cinta tak bisa dipaksakan. Seperti beberapa lelaki yang pernah mendekatiku, yang karena aku tak bisa menerima mereka karena beberapa alasan. Akupun tak bisa menerima perasaan mereka, seperti dia tak bisa menerima aku dan perasaan ku. Tetapi aku yakin nun jauh disana seseorang sedang menantiku, memikirkan kapan Tuhan akan mempertemukan kami. Aku yakin dan percaya suatu saat nanti pasti akan indah pada waktunya. Meski didunia kami tak dipertemukan, tapi di akhirat kelak kami akan dipertemukannya di surga-Nya.
Gest....^^,
Rindu
Aku melangkah tersendat di reruntuhan
Meraih segala dalam kegelapan
Aku berlari terseret arus mimpi
Bertepi di dahan yang telah mati
Terlanjur rapuh untuk menanti
Bertasbih mengharap sinarnya kembali
Tiada daya terjebak di lembah yang asing
Berkelana beriring sunyi yang bergeming
Embun menghilang dibawah mentari
Lautan air mata tak mampu puaskan dahaga ini
Berlarian...
Berlarian kesana kemari mencari jejak yang berceceran
Mencari kumpulan puzzle mimpi yang hendak ku tata di bingkai hati
Aku asing bagimu
Engkau asing bagiku
Apakah sekelumit benang kusut itu bisa terjalin utuh???
Ataukah hanya mimpiku yang tak pernah berujung???
Ilusi...
Mimpi...
Imaji...
Semu...
Samar tak terbyar
Tak akan terucap apa lagi terungkap
Mimpi buruk selalu menghantui
Biar cermin retak itu tak kembali terpecah-pecah
Berkeping-keping hingga butirannya tak berarti
Menyayat-nyayat kotak tua yang terlanjur ku pilih
Benci berkelana dalam sepi
Mengaduh ingin bingar ditepian waktu
Berfikir dalam keterasingan kata
Mencari dermaga mana yg hendak berbagi cerita
Dalam tanya yang berlalu
Rindu.
Tuesday, 1 April 2014
Aku dan Dia
Cerita ini berawal dari sebuah kegiatan yang mempertemukan aku dan dia. Dimana dia berlaku sebagai panitia dan aku sebagai calon mahasiswa yang akan mengikuti kegiatan yg dia panitiai. Kegiatan itu adalah ospek atau masa orientasi siswa yang harus dikuti seluruh calon mahasiswa baru seuniversitas. Aku tak pernah menyangka kalau dari kegiatan itu melahirkan benih-benih yang nantinya memberikan aku motivasi sekaligus kesedihan berkepanjangan hingga bertahun-tahun lamanya.
Hari itu acara tekhnikal meeting, kegiatan dimana seluruh calon maba/ mahasiswa baru yang ada dilingkungan fakultas yang aku pilih dikumpulkan untuk mengetahui tentang pembagian kelompok, barang-barang yang harus dibawa, dan pakaian apa yang harus dikenakan. Setelah pembagian kelomok dan pengumuman barang-barang yang hasru dibawa kemudian setiap kelompk diwajibkan memiliki lagu iyel-iyel yang nantinya akan di pertandingkan dengan kelompok-kelompok yang sudah dibentuk. Selain iyel-iyel kelompok ada juga iyel-iyel yang wajib kami hapalkan agar kegiatan ospek tersebut semakin semarak dan semangat.
Dari beberapa orang panitia, tiba-tiba aku tertarik pada salah seseorang yg tak pernah ku lihat sebelumnya. Dia bertugas sebagai kameramen atau entah apalah jabatannya aku tak terlalu perduli waktu itu, yang jelas dia sering keluar masuk ruangan dan anteng dengan kamera di tangannya. Sekilas kadang senyum simpul itu tersungging dipipinya. Sepertinya sih pendiam, entahlah aku hanya menebak-nebak saja, dari sana aku mulai merasa ada yang aneh dengan diriku ketika melihatnya.
Kufikir awalnya hanya simpatik atau apalah aku tak mengerti. Berdasarkan pengalaman di masa-masa SMA aku ga mau mengulangi masa-masa itu lagi sebenarnya, aku aku berjanji dalam hati aku tak ingin bermain-main dengan yang namanya cinta. Aku berjanji pada diriku sendiri kalau aku tidak akan pacaran sebelum lulus kuliah dan bekerja. Namun kenyataan dan takdir berkata lain, tidak sesuai dengan apa yang telah aku janjikan pada diri sendiri. Ya...aku melanggar janji itu dan terjebak dalam sebuah hubungan yang disebut "pacaran" itu, meski hanya sebentar, namun efeknya cukup berdampak bagi hidupku. Aku enggan kembali membuka hati dan menjalin hubungan dengan siapapun dan aku terjebak terlalu lama dalam cinta yang semu selama bertahun-tahun.
Hidup setiap manusia itu tidak pernah sama, pasti berbeda apa yang pernah dialaminya, meskipun hampir sama tapi tidak pernah ada yang benar-benar sama persis. Sama halnya dengan wajah, karakter, perilaku, kebiasaan, selera, bahkah anak kembar identik sekalipun.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>to be continued<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<
Subscribe to:
Posts (Atom)