Detik, hari, minggu dan bulan telah berlalu. Disini aku masih terpaku pada rasa yang kian menusuk kalbu. Sering aku sangkal rasa itu biar aku tak jadi ragu, biar aku tak lagi menangis pilu hanya mampu menatap kelopak mata sendu yang aku rindu. Ini tidak benar, tidak pernah benar untuk aku jalani sendirian tak berkawan. Lagi-lagi kembali terjerat dalam pesona yang tak mudah memudar.
Hampir satu tahun aku membisu dan mengasingkan diri dari dunia luar. Membekap seluruh gerak dan tawa dalam kesunyian. Entah apa yang ada dalam benak ini hingga aku terasing di keramaian. Aku kehilangan komunitasku dan tersesat dalam krisis kepercayaan diri di lingkungan. Fikiran-fikiran negatif di benak menguasai diri yang ketakutan. Ketakutan berkepanjangan menyempitkan akalku yang berfikiran terbuka selama ini. Aku sadari aku kehilangan diriku yang dulu, diriku yang berani menantang dunia, berani menghadapi kepahitan hidup dengan senyuman. Kini aku merasa kerdil di tengah luasnya lingkungan, seakan enggan bergaul atau hanya sekedar bertegur sapa dengan tetangga. Ketakutan dalam diri berhasil membelenggu aku, berhasil menghantui jiwa ini dengan kata-kata yang selalu terngiang "Kapan Nikah? Kenapa belum kerja? Kenapa dirumah aja?" dan kenapa-kenapa lainnya yang membuat aku muak. Kalau bukan karena kasih sayang Tuhan mungkin kini aku sudah gila.
Aku tahu aku terlalu berlebihan dan berfikiran negatif, ataukah aku terlalu sensitif menghadapi setiap persoalan. Entahlah aku bingung. Aku sudah berusaha menjadi manusia yang tak mau mencampuri urusan orang lain dan tak mau tahu apapun yang mereka katakan tentang diriku. Aku selalu berusaha semampuku untuk tak menghiraukan sikap sinis mereka terhadap keluargaku terlebih padaku. Usiaku memang tak lagi belia, sudah seharusnya aku berkeluarga dan memiliki karir yang cemerlang. Manusia hanya mampu berusaha dan berdoa selebihnya Tuhan yang menentukan.
Dari dulu aku memang tak pandai bergaul, teman-teman akupun sedikit. Aku pernah sekali menjalin hubungan yang dikatakan Pacaran. Itupun tak bertahan lama, karena aku merasa tak nyaman dan merasa aku telah merusak semua pertahanan yang selama ini aku bangun selama bertahun-tahun. Aku memang muda tetapi pemikiranku memang tua. Aku baru berpacaran saat di bangku kuliah, selama ini aku hanya fokus pada pelajaran dan prestasi akademik tanpa memikirkan yang lainnya. Aku masih wanita normal, aku pernah jatuh cinta juga ketika di bangku sekolah menengah pertama. Aku mulai jatuh cinta dan cinta monyetku bertahan hingga sekolah menengah atas dengan orang yang sama karena kebetulan aku sekelas dengan Dia di kelas 3 sekolah menenngah pertama dan sekelas di kelas X di sekolah menengah atas. Kemudian berlanjut ke cinta monyet yang lainnya, tak perlu aku sebutkan hingga detai biarkan itu jadi masa lalu yang aku simpan. Hingga akhirnya kini akupun Jatuh cinta pada Dia yang nunjauh disana, yang kembali berhasil meluluh lantahkan hati dan fikiranku. Aku memang naif dalam urusan cinta, karena aku sadar cinta tak harus memiliki. Aku serahkan semuanya kini pada Tuhan yang membolak balikan hatiku dan hatinya. Hanya melalui doa akutitipkan dia pada Tuhan, aku sadari belum tentu dia mimikirkanku, mengenaliku saja tidak. Aku selalu percaya ini bagian rencana Tuhan untuk hidupku. Dipenghujung tahun ini aku mungin masih sama seperti dulu, namun tidak hatiku yang lebih bisa menerima apa adanya diriku. AKu tak mau banyak menuntut pada Tuhan, karena dengan masih bernafasnya diriku hingga aku rangkaikan kata-kata ini saja aku sudah bersyukur. Untuk meminta lebih dari ini aku tahu diri.
Memperbaiki diri kini prioritasku, kembali bangkit dan mewujudkan cita-citaku itu yang utama kini. Jodoh, rizki dan kematian, aku pasrahkan seutuhnya pada Tuhan. Aku begini bukan berarti aku putus asa, akan tetapi aku sadar hidup tak akan selamanya aku genggam. Kalau bukan sekarang kapan lagi aku mendekat ke Tuhan, mau sampai kapan aku meratapi diri dan menyalahkan diri dan lingkungan karena aku tak bisa menemukan belahan jiwa, menikah, memiliki anak, memiliki karir cemerlang dan bahagia.
Diakhir tahun ini semoga apa-apa yang telah terjadi dan aku lalui menjadi pelajaran berharga yang mampu mendewasakan aku dalam bertindak maupun berfikir. Semoga Allah selalu menuntun aku pada jalan yang lurus dengan cahaya iman yang selalu menyinari hati ini. Dan aku titipkan Dia hanya pada-Mu, apapun yang terjadi nanti, dengan atau tanpanya kelak aku bersanding. Aku jatuh cinta, teramat cinta, aku sayang padanya dan aku selalu mendukungnya. Demi Engkau Tuhanku yang telah sematkan rasa cinta ini. Karena-Mu aku jatuh cinta.