Thursday, 25 December 2014

Rapuh






























Sekerat Senja yang memburam
Lukiskan tawamu dari balik awan
Tetes-tetes hujan hendak membasuh lara dimatamu
Tak kau ijinkan menyatu dengan tubuhmu

Senja ...
Ilusikah mimpiku!
Tuk percikan warna di hari -harimu
Mari ulurkan lembara-lembaran kelabu
Menjadi putih seersih mimpi yang hendak dirajut

Wajah tak berona 
Mata sendu sejuta rindu 
Hitam legam segurat alis di wajah pilu

Wahai engkau Pujangga pilihanku

Bukan aku
Bukan aku yang tergambar di mata itu

Sebatang pohon rapuh terkoyak angin yang membabi-buta
Kering kerontang kesepian di ujung senja
Tak bergeming tak bertuan
Sendirian tanpa kawan
Hanya desiran angin yang membunuhnya secara perlahan.




No comments:

Post a Comment