Thursday, 28 May 2015

KARENA ITU KAMU




Karena kamu tulisan ini ada. Karena kamu segalanya yang telah hilang kembali. Karena kamu segalanya terasa lebih berwarna. Karena kamu alasanku kembali menatap dunia. Karena kamu gairah itu kembali bersemi. Karena kamu segala yang tak mungkin menjadi mungkin. Karena kamu adalah alasan aku kembali berani seperti dulu. Karena kamu kembalikan setiap jengkal mimpi-mimpi yang lama aku kubur di pelataran ilusi. Karena kamu aku kembali gila. Karena kamu segala ide dan imaji bertaburan. Karena kamu semangat ini kembali menggebu. Karena kamu kepahitan itu sirna seketika. Karena kamu aku semakin faham hidup itu apa. Karena kamu aku mengerti arti pengorbanan yang sesungguhnya. Karena kamu mimpi itu harus diperjuangkan. Karena kamu dan hanya kamu. Itu kamu bukan yang lain.
Entah logika atau hanya emosi semata, kata demi kata yang terangkai begitu saja. Aku hanya ingin dan ingin menguraikannya. Apa adanya, tak bisa aku bendung lagi. Tak perduli dunia akan mencaci dan memaki setiap kata yang terangkai ini. Aku ya aku yang begini. Ini tak mampu mengisyaratkan setiap apa yang ada dinaluri. Ini hanya sepenggal kata yang ingin aku bagi. Meski sepersekian kata ini ada, lautan tak akan mampu menggenapi. Kamu begitu bermakna, seperti langit yang berbicara. Aku hanya bisu menatap bayangmu dibalik pintu. Aku biarkan kamu mencari jejak bagian rusukmu. Ku biarkan Tuhan yang berkehendak atas hidupku. Bukan kamu taupun aku dengan sesukaku. Kamu cukup tahu jika kamu ingin tahu. Tak akan aku paksakan kamu untuk tahu. Karena aku tahu kamu mampu membaca setiap tetesan hujan yang luruh kebumi, dan kamu mampu membaca makna di setiap helaan nafas alam yang menyentuh urat nadi.
Berbagi arti bukan berarti ingin dipuji. Tinggalkan jejak hanya untuk uraikan setiap ambigu yang membelenggu. Mencinta hanya membuatku candu akan rindu. Itu saja yang ingin aku gantung di masa lalu. Kenangan, mimpi dan harapan bukan untuk aku gantung diruang gerakmu. Karena itu hanya akan membuatku semakin tak tahu malu.
Hari ini, esok dan seterusnya kamu tetap jadi kamu dan aku tetap jadi aku. Kebencian mu akan setiap untaian kata ini tak mampu ku baca dan resapi. Kegelisahanmu hanya akan taburkan luka dihatiku. Akan tetap ada pelangi yang menaungi setiap jejak langkah sepi. Kesadaran membakar emosi, tinggalkan aku jauh lagi.
Pantai yang tinggalkan jejakmu tak patut aku ikuti diam-diam. Hanya akan semakin memburam. Sengsarakan kalut yang menggelayut. Surya yang tenggelamkan kamu dari mataku. Seketika aku caci karena biarkan kembali mati. Sekencang apapun aku tarik ujung nyiur yang melambai. Terlampau rendah aku berbediri. Ku tundukkan kepala di ujung kaki, tetap tak terlampaui. Cukup aku berbagi kata yang tak berarti. Saatnya kini aku kembali. Lenyapkan jejak dibalik sapuan ombak pagi. Jaga diri dan hatimu, jangan terluka lagi. Namamu masih terselip dalam setiap do’aku. Sampai nanti, ketika Tuhan ijinkan aku untuk kembali.





Note  : Harapan itu selalu ada. Tetapi aku tak ingin terlarut kembali dalam harapan palsu yang aku buat sendiri padamu. Cukup pada Tuhan saja aku berharap dan bergantung.