Cerita ini berawal dari sebuah kegiatan yang mempertemukan aku dan dia. Dimana dia berlaku sebagai panitia dan aku sebagai calon mahasiswa yang akan mengikuti kegiatan yg dia panitiai. Kegiatan itu adalah ospek atau masa orientasi siswa yang harus dikuti seluruh calon mahasiswa baru seuniversitas. Aku tak pernah menyangka kalau dari kegiatan itu melahirkan benih-benih yang nantinya memberikan aku motivasi sekaligus kesedihan berkepanjangan hingga bertahun-tahun lamanya.
Hari itu acara tekhnikal meeting, kegiatan dimana seluruh calon maba/ mahasiswa baru yang ada dilingkungan fakultas yang aku pilih dikumpulkan untuk mengetahui tentang pembagian kelompok, barang-barang yang harus dibawa, dan pakaian apa yang harus dikenakan. Setelah pembagian kelomok dan pengumuman barang-barang yang hasru dibawa kemudian setiap kelompk diwajibkan memiliki lagu iyel-iyel yang nantinya akan di pertandingkan dengan kelompok-kelompok yang sudah dibentuk. Selain iyel-iyel kelompok ada juga iyel-iyel yang wajib kami hapalkan agar kegiatan ospek tersebut semakin semarak dan semangat.
Dari beberapa orang panitia, tiba-tiba aku tertarik pada salah seseorang yg tak pernah ku lihat sebelumnya. Dia bertugas sebagai kameramen atau entah apalah jabatannya aku tak terlalu perduli waktu itu, yang jelas dia sering keluar masuk ruangan dan anteng dengan kamera di tangannya. Sekilas kadang senyum simpul itu tersungging dipipinya. Sepertinya sih pendiam, entahlah aku hanya menebak-nebak saja, dari sana aku mulai merasa ada yang aneh dengan diriku ketika melihatnya.
Kufikir awalnya hanya simpatik atau apalah aku tak mengerti. Berdasarkan pengalaman di masa-masa SMA aku ga mau mengulangi masa-masa itu lagi sebenarnya, aku aku berjanji dalam hati aku tak ingin bermain-main dengan yang namanya cinta. Aku berjanji pada diriku sendiri kalau aku tidak akan pacaran sebelum lulus kuliah dan bekerja. Namun kenyataan dan takdir berkata lain, tidak sesuai dengan apa yang telah aku janjikan pada diri sendiri. Ya...aku melanggar janji itu dan terjebak dalam sebuah hubungan yang disebut "pacaran" itu, meski hanya sebentar, namun efeknya cukup berdampak bagi hidupku. Aku enggan kembali membuka hati dan menjalin hubungan dengan siapapun dan aku terjebak terlalu lama dalam cinta yang semu selama bertahun-tahun.
Hidup setiap manusia itu tidak pernah sama, pasti berbeda apa yang pernah dialaminya, meskipun hampir sama tapi tidak pernah ada yang benar-benar sama persis. Sama halnya dengan wajah, karakter, perilaku, kebiasaan, selera, bahkah anak kembar identik sekalipun.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>to be continued<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<
No comments:
Post a Comment