Tuesday, 8 April 2014

Gemericik


Cinta dan persahabatan itu realita. Ada duka ada tawa. Cinta itu gila, kadang mengoyak dada dan tinggalkan nestapa dihati setiap pencinta. Persahabatan itu pertemanan yang kadang tersamar dalam cinta. Persahabatan itu tercipta dalam harmonisasi hidup dan jiwa.
Aku tak pernah mengerti apa sebernarnya cinta dan apa sebenarnya persahabatan. Sebatas yang aku tahu cinta itu sebuah perasaan kasih, sayang, kesetiaan, ketulusan, benci, duka, ingin selalu bersama, ingin memiliki, ingin dimengerti, saling membutuhkan, seia-sekata dan tak terpisahkan meski ruang dan waktu yang memisahkan.
Persahabatan itu kekraban, kedekatan emosional, visi, misi, pemikiran, berbagi, toleransi, kebersamaan, kekeluargaan, dan kesetiakawanan.
Embun gadis manis berkulit langsat, bermata coklat pekat, rambutnya ikal ke merahan sedang asik termenung dibawah jendela besar dikamarnya. Titik-titik hujan luruh dibalik jendela kamarnya, seakan langit dan bumi mampu membaca isi hatinya. Perasaan apakah itu, entahlah. Embun si gadis penyendiri yang tak pernah terbuka terhadap siapapun, termasuk kedua orang tuanya. Padahal bila dilihat kedua orang tuanya tergolong cakap dilingkungannya. Ayahnya seorang pegawai pemerintahan sekaligus petani didesanya. Namun semua itu tak menjadikan ayahnya tamak dan sombong. Bahkan ayahnya sendiri merawat sawah, ladang, binatang ternak dari memandikannya sampai menccari rumput untuk pakannya. Ibu Embun hanya perempuan desa biasa yang bekerja sebagai tenaga pengajar di kampung sebelah, meneruskan perjuangan kakeknya yang telah wafat.
Embun yang penyendiri tak mewarisi sifat kedua orang tuanya, tetapi embun mewarisi sifat sang kakek yang pendiam dan tak banyak bicara. Embunpun mewarisi sifat yang tak dimiliki ibunya yang jelas-jelas anak sang kakek. Pendiam, tak banyak bicara, suka bekerja dan pandai menyembunyikan penderitaannya sendiri. Saking pandainya orang tuanya tak pernah tahu apa yang sedang dirasakannya saat ini.
Hampir empat tahun Embun terjerat duka dan lara yang tak berkesudahan, hingga ia tak mampu lagi bertahan dan memutuskan untuk mengakhiri semua itu di akhir desember tahun lalu. Embun tahu apa yang dia lakukan, meskipun semua itu tak pernah berakhir bahagia untuk kehidupannya.
Gunturlah yang hampir empat tahun ini mengisi relung hatinya. Sejak lama Guntur telah mengetahui isi hati Embun yang tak pernah berubah meski Guntur tak pernah membalas apa yang telah diberikan Embun. Meskipun tahu apa yang Embun rasakan padanya, Guntur tetap berpura-pura baik dan hanya menganggap Embun seperti sahabat & adiknya.
“Embun…..”
“Embun maafkan aku sebelumnya. Aku tersanjung dengan apa yang telah kau lakukan dan berikan padaku. Tapi harus aku akui, aku memang bersalah tidak berusaha lebih keras untuk menerimamu dikehidupanku. Jujur aku merasa bersalah terhadapmu. Tapi inilah kenyataan yang harus kau ketahui tentang perasaanku terhadapmu”. Balas Guntur dalam SMS nya.
Hening….tak ada jawaban, mukanya memucat dan pipinya telah basah.
Embun. Maafkan aku. Aku hanya bisa menganggapmu sahabat dan seperti adik bagiku. Sekali lagi maafkan aku”. Itulah sms terakhir yang dikirim oleh Guntur.
Embun sudah menduga-duga sejak lama, bahwa kejadian ini pasti akan datang juga dengan sendirinya. Keegoisanlah yang membuatnya lupa, kalau cinta itu tidak dapat dipaksakan. Bukan hanya itu saja, ada perbedaan jarak dan waktu yang memisahkan mereka. Sehinga selama empat tahun itu Guntur tak pernah bisa menerimanya. Karena menurutnya berhubungan jarak jauh atau LDR (Long Distance Relationship) itu sesuatu yang sangat mustahil dilakukan, terutama dijaman sekarang ini yang berlandas pada saling percaya dan saling pengertian. Karena dalam suatu hubungan perlu adanya kebersamaan apakah saling bertemu, jalan-jalan, makan malam bersama ataukah sekedar nonton dibioskop seperti orang lain pada umumnya. Dan itu tidak  bisa mereka lakukan selama ini.
Kejadian itu telah membangunkan ia dari mimpi-mimpi yang telah ia pertahankan selama ini. Yaitu sebuah pengakuan bahwa ia itu diinginkan, dinantikan dan dikasihi oleh seseorang yang juga ia kasihi sepenuh hati. Semuanya telah terlambat, tak mungkin waktu diputar kembali. Hidupnya harus terus berlanjut, masih banyak mimpi yang belum ia capai. Ia berjanji tak ingin mengulangi kesalahannya lagi dan kembali terjerat dalam cinta yang semu. Masalalu adalah kenangan. Kenangan adalah ingatan atau memori atau suatu kejadian atau peristiwa yang terekam diotak kita. Apakah peristiwa buruk, menyakitkan, menyenangkan, ataupun sesuatu yang bersifat traumatis. Semua kejadian itu akhirnya hanya akan dikenang dan jadi sebuah cerita masa tua untuk anak cucu kelak.
Embun tersadar bahwa sedaritadi ia terlalu hanyut dalam alunan hujan yang makin deras dibalik jendela kamarnya. Segurat senyum tersungging dibibir manisnya. Kini ia telah bahagia bersama seseorang yang sangat ia cintai dan mencintainya, Angin. Seseorang yang telah menjadi suaminya dan telah memberikannya sepasang anak kembar (Laki-laki & Perempuan) yang lucu seperti impiannya selama ini. Dan mereka hidup bahagia di belanda hingga kakek dan nenek.
The End

Gundah
Sebuah cerita sebuah derita
Elegi cinta terbingkai dihati yang mencinta
Berderu dalam duka dan nestapa.
Bernyanyi di bibir rindu yang menggema

Cinta hampa bertepuk derita
Cinta nyata berbingkai egosentris sang pujangga
Berabad cinta tak terbuka
Tersamar dalam sanjung dan puja-puja

Kemilau embun dimata pagi
Tersungging damai dikegelapan
Kencana biru telah lama menanti
Tak juga kembali dari keterasingan

Berpijak dibawah lazuardi yang melaju
Tak berarah berkalang rindu
Kata aku, kamu di urat nadi
Tak berarti terucap hanya sekali

Ruang dan waktu tak menyatu
Dibibir malam yang kian tersulam
Gelap…
Gelap dan pekatkan fatamorgana
Samar…mengaburkan wajah derita
Seperti mimpi berselimut cinta
Membasuh raga dalam khayal yang nyata.








No comments:

Post a Comment