Monday, 3 August 2015

Tutup mata, Tutup lisan dan Tutup telingan = dari makna yang sebenarnya



Hijaunya dedaunan padi yang terayun-ayun oleh lembutnya hembusan angin
Sejukkan seketika racaunya jiwaku
Semilir angin yang pula berhembus di pipi ini
Seketika bisikan tawa dihatiku
Entah apa yang sedang Tuhan rencanakan untukku
Sebagai hamba yang hina dina di muka bumi, aku selalu percaya apa kata hatiku
Meski ku tahu indah itu bukan hanya yang dimata, bukan hanya yang dirasa, bukan hanya yang memuaskan, bukan hanya yang menyenangkan, bukan hanya jabatan,bukan hanya pasangan yang cantik atau tampan, bukan pula segala kekayaan, tapi rasa syukur
Aku bukan siapa-siapa yang patut didengar pendapatnya, yang patut di contoh kepribadiannya, yang patut dikagumi kecantikannya, yang patut dibanggakannya kebaikannya
Aku hanya aku
Diriku yang tak kau tahu
Hanya aku dan Tuhan yang tahu siapa aku
Siapapun berhak menilaiku
Akupun begitu

#Lainnya
Serdadu-seradu berhasil lumpuhkan kakiku
Ketika itu hanya tinggalkan kulit berbalut tulang
Tak akan bagiku menyerah hanya karena kelemahanku
Malu bukan musuhku
Meski yang lain teriak menginjakku
Hanya karena aku ingin seperti padi yang menua
Takkan gentar ku tengadahkan tangan ini, ku tundukkan kepala ini hanya ke Yang Maha Memiliki Jiwa dalam genggamannya
Pelajaran yang paling mencambuk hidup ini, dan rasanya lebih dari cambukan dikulit yang akan berbekas
Hanya syukur yang teapt tuk terucap
Lisan memang lebih tajam daripada pedang, mata memang lebih berbahaya daripada hati, telinga memang lebih berbahaya daripada hati, telinga memang lebih berbahaya daripada fikiran

No comments:

Post a Comment