Wednesday, 5 August 2015

Tak Ada Yang Salah

Kata demi kata yang ku rangkaikan ini hanya sebatas pengalihanku, pengalihan duniaku dari dunia nyata. Semua yang berhubungan denganmu ingin aku musnahkan. Sekali lagi dan ingin sekali aku enyah dari dunia yang sebagian sisakan kesedihan, kekecewaan dan duka. Apa yang ada di hati ini tak sanggup aku gambarkan bagaimana besarnya. Sebatas aku mengenalnya di dunia maya, aku rasa seperti mengenalnya jauh lebih lama. Aku ingin mengerti dirinya, aku ingin memahami setiap kesedihan yang tergambar di raut wajahnya. Setiap duka yang mengendap di setiap kata-kata yang terlontar dari mulutnya. Semua itu tak mampu aku obati. Ruang dan waktu terlanjur memisahkan jarak diantara kami. Jerit hati ini semakin kencang dan tak ada yang mampu mendengarnya. Dilubuk hatiku yang paling dalam, aku tak ingin lagi kehilangannya untuk yang kedua kali. Seperti aku kehilang Dia yang kini telah bersama belahan jiwanya. Aku ingin jadi belahan jiwanya. Apa dayaku aku hanya makhluk hina yang banyak keinginan dan berlumur dosa. Akankah aku bisa bersamanya. Kami seperti langit dan bumi, Seperti bulan dan matahari.

Kadang aku tak rela melihatnya bersama yang lain. Aku sadar aku bukan siapa-siapa dimatanya. Tetap saja aku tak rela melihatnya dan tanpa terasa jantung ini seakan ditusuk-tusuk belati tajam. Terus menghujamnya tanpa henti, seakan mampu membunuhku secara perlahan karena sakitnya. 

Dalam sepi....sering terlintas ingin aku ungkapkan secara jelas tanpa terlewatkan sedikitpun apa yang terpendam di hati ini. Tak perduli apa yang akan aku dengar dari mulutnya. Apakah itu penolakan, kebencian, atau rasa jijik yang aku terima. Yang pasti aku tak sanggup dengan rasa ini. Terus terabaikan, tak diinginkan, dan di tuduh yang bukan-bukan tanpa tau siapa diriku yang sebenarnya.

Hanya lewat tulisan ini, di blog yang aku buat ini dua tahun lalu. Aku hanya ingin mengabadikan apa yang sedang aku rasakan dan alami dalam hidupku. Karena suatu saat nanti mungkin aku akan merindukan hal-hal seperti itu, sekalipun pengalaman buruk yang aku alami. Bisa pula sebagai dokumen bagaimana kisah hidupku yang kelak akan aku bagi dan ceritakan pada anak cucuku. Itupun jika Tuhan mengijinkanku melalui fase itu "menua".

Hidup ini panggung sandiwara, dan kita harus mampu menjalankan scenario Tuhan dengan baik. Apakah itu scane yang membahagiakan ataupun scane yang menyakitkan yang harus dilalui setiap detik, menit, hari dan tahun yang entah sampai kapan kita akan mengakhirinya. Kemudian kembali menghadap-Nya untuk mempertanggungjawabkan semua peran yang kita lakonkan semasa nafas dan jiwa masih menyatu dengan raga.


Hmmmmm.....hari ini begitu sensitif. Tak terasa dari tadi kristal-kristal ini tak mau juga berhenti keluar dari tempatnya. 

No comments:

Post a Comment