Karena kamu tulisan ini ada. Karena kamu
segalanya yang telah hilang kembali. Karena kamu segalanya terasa lebih
berwarna. Karena kamu alasanku kembali menatap dunia. Karena kamu gairah itu
kembali bersemi. Karena kamu segala yang tak mungkin menjadi mungkin. Karena kamu
adalah alasan aku kembali berani seperti dulu. Karena kamu kembalikan setiap
jengkal mimpi-mimpi yang lama aku kubur di pelataran ilusi. Karena kamu aku
kembali gila. Karena kamu segala ide dan imaji bertaburan. Karena kamu semangat
ini kembali menggebu. Karena kamu kepahitan itu sirna seketika. Karena kamu aku
semakin faham hidup itu apa. Karena kamu aku mengerti arti pengorbanan yang
sesungguhnya. Karena kamu mimpi itu harus diperjuangkan. Karena kamu dan hanya
kamu. Itu kamu bukan yang lain.
Entah logika atau hanya emosi semata, kata demi
kata yang terangkai begitu saja. Aku hanya ingin dan ingin menguraikannya. Apa adanya,
tak bisa aku bendung lagi. Tak perduli dunia akan mencaci dan memaki setiap
kata yang terangkai ini. Aku ya aku yang begini. Ini tak mampu mengisyaratkan
setiap apa yang ada dinaluri. Ini hanya sepenggal kata yang ingin aku bagi. Meski
sepersekian kata ini ada, lautan tak akan mampu menggenapi. Kamu begitu
bermakna, seperti langit yang berbicara. Aku hanya bisu menatap bayangmu
dibalik pintu. Aku biarkan kamu mencari jejak bagian rusukmu. Ku biarkan Tuhan
yang berkehendak atas hidupku. Bukan kamu taupun aku dengan sesukaku. Kamu cukup
tahu jika kamu ingin tahu. Tak akan aku paksakan kamu untuk tahu. Karena aku
tahu kamu mampu membaca setiap tetesan hujan yang luruh kebumi, dan kamu mampu
membaca makna di setiap helaan nafas alam yang menyentuh urat nadi.
Berbagi arti bukan berarti ingin dipuji. Tinggalkan
jejak hanya untuk uraikan setiap ambigu yang membelenggu. Mencinta hanya membuatku
candu akan rindu. Itu saja yang ingin aku gantung di masa lalu. Kenangan, mimpi
dan harapan bukan untuk aku gantung diruang gerakmu. Karena itu hanya akan
membuatku semakin tak tahu malu.
Hari ini, esok dan seterusnya kamu tetap jadi
kamu dan aku tetap jadi aku. Kebencian mu akan setiap untaian kata ini tak
mampu ku baca dan resapi. Kegelisahanmu hanya akan taburkan luka dihatiku. Akan
tetap ada pelangi yang menaungi setiap jejak langkah sepi. Kesadaran membakar
emosi, tinggalkan aku jauh lagi.
Pantai yang tinggalkan jejakmu tak patut aku
ikuti diam-diam. Hanya akan semakin memburam. Sengsarakan kalut yang
menggelayut. Surya yang tenggelamkan kamu dari mataku. Seketika aku caci karena
biarkan kembali mati. Sekencang apapun aku tarik ujung nyiur yang melambai. Terlampau
rendah aku berbediri. Ku tundukkan kepala di ujung kaki, tetap tak terlampaui. Cukup aku berbagi kata yang tak berarti. Saatnya kini
aku kembali. Lenyapkan jejak dibalik sapuan ombak pagi. Jaga diri dan hatimu,
jangan terluka lagi. Namamu masih terselip dalam setiap do’aku. Sampai nanti,
ketika Tuhan ijinkan aku untuk kembali.
Note : Harapan
itu selalu ada. Tetapi aku tak ingin terlarut kembali dalam harapan palsu yang
aku buat sendiri padamu. Cukup pada Tuhan saja aku berharap dan bergantung.
No comments:
Post a Comment